Kriteria Pertama KULTUS: Kepemimpinan Otoriter

<<<<: Baca artikel sebelumnya                                  Baca Artikel Berikutnya: >>>>

menara pengawal Saksi Yehuwa kultus
Apakah Badan Pimpinan Pemimpin KULTUS?
MESKIPUN SETIAP GRUP kultus berbasis agama Kristen memiliki doktrin kepercayaan, ritual dan perilaku yang berbeda-beda antar satu grup kultus dengan kelompok lainnya sehingga sulit untuk diindentifikasikan, namun jika kita hilangkan perbedaan doktrin dan ritual agama dengan memfokuskannya pada persamaan kriteria yang mereka miliki, maka kita akan mendapatkan kesamaan kriteria yang membentuk suatu organisasi sebagai sebuah kultus. Kesamaan ciri khas inilah yang akan saya bahas berdasarkan buku “Releasing the Bonds: Empowering People to Think for Themselves*. Di buku tersebut, Hassan membahas apa itu kultus yang destruktif (merusak) dengan menyampaikan 3 ciri-ciri atau kriteria sebuah kultus destruktif, yaitu kepemimpinan yang otoriter, menggunakan penipuan, dan memanfaatkan teknik kontrol pikiran (mind control). 

Apakah kultus itu? Steve Hassan mengatakan bahwa kita tidak dapat menganggap sebuah grup sebagai sebuah kultus hanya karena keyakinan dan praktek agamanya yang tidak ortodoks ataupun karena penampilan luarnya yang aneh-aneh seperti mengenakan pakaian yang sama ataupun potongan rambut mohawk. Faktanya, meskipun ada pemimpin kultus yang meminta anggotanya berpenampilan yang sama, tetapi lebih banyak pemimpin kultus yang meminta anggotanya menggunakan pakaian formal dan rapi agar dapat berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, cara mengidentifikasikan sebuah grup sebagai kultus destruktif adalah dengan caranya menggunakan penipuan dan teknik mind control (pengendalian pikiran) untuk merusak kehendak bebas anggotanya dan membuat anggotanya secara emosional dan perilaku bergantung kepada pemimpinnya. 

A group should not be considered a “cult” merely because of its unorthodox beliefs or practices. Instead, destructive cults are distinguished by their use of deception and mind control techniques to undermine a person’s free will and make him dependent on the group’s leader.
Dan menurut Hassan, sebuah kelompok dapat disebut sebagai kultus jika memenuhi 3 kriteria dan untuk bahasan kali ini; saya fokus membahas topik kepemimpinan yang otoriter dari pemimpin kultus (Lihat juga artikel Memahami Lebih Dekat Tentang Kultus). 

Ciri grup kultus menurut Hassan adalah sang pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang bersifat otoriter dalam mengontrol kehidupan para anggotanya, mengklaim pemilihan ilahi, dan secara aktif menipu anggotanya. Perhatikan kutipan berikut: 

Pada dasarnya, sebuah kultus yang merusak (destruktif) adalah sebuah grup otoriter yang dipimpin oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kontrol yang hampir penuh. Pemimpin karismatik kultus sering mengklaim yang ekstrim bersifat ilahi atau kekuatan “dunia lain” untuk mempengaruhi anggota mereka. Banyak agama yang sah memiliki tokoh kuat yang menginspirasikan dedikasi yang besar pada orang. Menjadi seorang pemimpin yang kuat tidak dapat langsung dikatakan salah, meskipun membawa potensi tinggi untuk penyalahgunaan. Sebuah kelompok menjadi destruktif ketika pemimpinnya secara aktif menggunakan kekuatan tersebut untuk menipu anggota dan merampok individualitas dan kehendak bebas mereka.

In essence, a destructive cult is an authoritarian group that is headed by a person or group of people that has near-complete control. Charismatic cult leaders often make extreme claims of divine or “otherworldly” power to exercise influence over their members. Many legitimate religions have had powerful figures that have inspired enormous dedication in people. Being a powerful leader is not inherently wrong, though it carries a high potential for abuse. A group becomes destructive when its leader actively uses such power to deceive members and to rob them of their individuality and free will. 
Kita banyak menjumpai para pemimpin agama yang kharismatik dan sangat menginspirasikan banyak orang lain dan ini tidaklah salah. Tetapi pemimpin yang demikian memiliki potensi untuk menyalahgunakan kharismanya atas para anggotanya. Penyalahgunaan kharisma inilah yang akan menjadikan pemimpin agama itu menjadi pemimpin kultus. Ini terjadi kepada Charles Russell sebagai pendiri organisasi Menara Pengawal memiliki kharisma yang kuat di antara pengikutnya sehingga meskipun ia tidak lulus sekolah teologia manapun tetapi disebut sebagai pastor. Karena begitu luar biasa kharismanya, para pengikut Russell mengultuskannya karena dianggap sebagai hamba setia dan bijaksana, penggenapan nubuatan Mat. 24:44-45. Dan sampai saat ini pengultusan telah bergeser yaitu dari pribadi Russell kepada konsep badan pimpinan dan kaum terurap sebagai hamba setia dan bijaksana.

Sekarang, kembali pada topik kita yaitu ciri-ciri kultus yang disampaikan oleh Hassan di atas yaitu:
  • Kepemimpinan yang otoriter
  • Mengklaim pemilihan Yang Bersifat Ilahi atau dunia lain
  • Sang Pemimpin secara aktif menipu anggotanya
  • Merampas individualitas dan kehendak bebas anggotanya

Nah, empat hal ini akan saya bahas dengan detail untuk membuktikan lebih lanjut; apakah organisasi Saksi Yehuwa dengan badan hukumnya Lembaga Menara Pengawal termasuk dalam kriteria tersebut?

Pemilihan Ilahi Dan Kepemimpinan Yang Otoriter

Hampir semua grup kultus berkedok agama Kristen mengklaim dirinya beroleh penentuan atau pemilihan secara ilahi oleh Yesus, Allah Bapa, menjadi mesias, beroleh pengetahuan khusus yang gereja lain tidak miliki, penggenapan nubuatan Alkitab terjadi atas dirinya dan lain-lain klaim bersifat mistis yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya dan bersifat bualan ataupun penipuan. Misalnya pendiri Mormon mengklaim dipilih menjadi nabi dan membawa buku Mormon yang menjadi sebuah pengetahuan tambahan disamping Alkitab. Dan Jim Jones yang membawa 900-an pengikutnya melakukan bunuh diri massal mengaku sebagai mesias, reinkarnasi dari Gandhi bahkan Yesus Kristus sendiri dan mengklaim mampu melakukan kesembuhan ilahi yang terbukti palsu.

Meskipun organisasi Saksi Yehuwa tidak mengklaim mampu melakukan mukjizat seperti kesembuhan ilahi, tetapi ia mengklaim dirinya memiliki pengetahuan atau pengertian khusus tentang  Alkitab yang hanya dapat dimengerti oleh hamba setia dan bijaksana di akhir jaman ini sesuai dengan kitab Daniel 12:4, 9-10. Kita lihat dampak klaim organisasi ini diyakini benar oleh seorang apologet Saksi Yehuwa bernama Ivan Robert berikut ini:

kami dengan terus terang mengklaim sebagai kelompok yang menggenapi nubuat Daniel. (Di sini)
Organisasi Saksi Yehuwa juga mengklaim beroleh pemilihan oleh Yesus Kristus pada tahun 1918/1919 (walaupun kemudian dirubah menjadi 1914/1919) sebagai penggenapan nubuatan Matius 24: 44-45 tentang budak yang setia dan bijaksana sehingga menjadikan dirinya sebagai satu-satunya saluran komunikasi Allah di bumi. Pemilihan ini bukanlah sekedar sebuah tafsiran, melainkan klaim sepihak dengan mengatas-namakan Allah Bapa dan Yesus Kristus. Lihat bahasan detailnya di Propaganda Dusta: Pemilihan Budak Setia Dan Bijaksana.Perhatikan klaim-klaim tersebut begitu jelas mengatakan “Yesus menetapkan, Yesus pilih dan tetapkan, Ia dan Bapak-Nya datang dan menginspeksi”. Ini bukanlah sekedar tafsiran melainkan organisasi benar-benar mengatas-namakan Yesus dan Allah Bapa karena disertai dengan angka tahun pemilihan yang bersifat mutlak yaitu 1914/1919 (bukan tafsiran). Bagi para Saksi Yehuwa, mereka sungguh-sungguh percaya hal ini terjadi. Robert Jay Lifton seorang pelopor kontrol pikiran (disebut juga thought reform) mengatakan bahwa klaim-klaim demikian disebut mystical manipulation (manipulasi mistis) Lihat artikel Memahami Lebih Dekat Kultus

Mengapa pemimpin kultus mengklaim hal-hal yang demikian? Pemimpin kultus harus melakukan ini untuk menciptakan suatu aura kekaguman, antusiasme dan memberi kesan memiliki suatu kemampuan untuk menyelesaikan setiap masalah kehidupan untuk memikat hati orang dengan maksud tujuan untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari calon korbannya. Mendapatkan kepercayaan yang penuh diperlukan untuk memudahkan pemimpin kultus beroleh ketaatan dari anggotanya. Setelah ketaatan mutlak diperoleh,  ia dengan mudah mengontrol kehidupan para anggotanya melalui teknik kontrol pikiran untuk melaksanakan maksud tujuan pemimpin kultus.

Kita secara manusiawi akan mengagumi pemimpin-pemimpin yang memiliki kharisma luar biasa dalam pelayanannya; baik khotbahnya yang memberikan pencerahan ataupun kesanggupannya melakukan kesembuhan ilahi. Kita merasa pemimpin tersebut memiliki kedekatan yang khusus dengan Allah sehingga ketika kita sakit ataupun mengalami suatu kesulitan hidup, kita lebih percaya doa pemimpin itu lebih didengar oleh Allah atau lebih berkuasa dibandingkan kita berdoa langsung kepada Allah. Nah, kekaguman, rasa hormat dan kepercayaan yang penuh dan berlebihan dapat dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh sosok pemimpin untuk kepentingannya tanpa disadari oleh jemaatnya sendiri sehingga akhirnya mereka taat dan patuh kepada sang pemimpin karena menganggapnya sebagai wakil Allah sendiri.

Inilah yang terjadi kepada pengikut-pengikut Jim Jones yang terkagum-kagum dengan kharisma Jones sebagai orator ulung dan kemampuan palsu penyembuhan ilahinya. Perlahan-lahan para anggotanya dipengaruhi oleh teknik kontrol pikiran sehingga membutakan mata hati, nurani dan akal sehat mereka yang pada akhirnya tunduk dan taat total akan segala perintah Jones tanpa boleh mempertanyakan apalagi mengkritisinya. Jika ada anggota yang mengkritik Jones, ia akan mendapatkan hukuman dan dianggap sebagai pengkhianat. Ya, pemimpin kultus yang tadinya terlihat baik dan ramah setelah anggotanya terpengaruh kontrol pikiran akan berubah total menjadi seorang yang sangat otoriter. Perhatikan kesaksian pengikut Jones berikut ini:

Jeanne Mills yang menghabiskan 6 tahun sebagai anggota yang berhasil meninggalkan People Temple, menulis: ”Ada hukum tak tertulis tetapi jelas dimengerti di gereja yang sangat penting: Tidak seorang pun mengkritik Ayah, istri atau anak-anaknya” (Mills, 1979). Deborah Blakey, anggota yang lain berhasil membelot, bersaksi:

Setiap perselisihan dengan dikte Jim Jones akan dianggap sebagai “pengkhianatan”. . . . Meskipun saya merasa buruk dengan apa yang terjadi. Saya takut untuk berkata apapun karena saya tahu bahwa siapapun juga yang memiliki opini berbeda akan mendapatkan murka Jones dan anggotanya lainnya.

Jeanne Mills, who spent six years as high-ranking member before becoming one of the few who left the Peoples Temple, writes: “There was an unwritten but perfectly understood law in the church that was very important: No one is to criticize Father, wife, or his children” (Mills, 1979). Deborah Blakey, another long-time member who managed to defect, testified:

Any disagreement with [Jim Jones's] dictates came to be regarded as “treason.” ....Although I felt terrible about what was happening, I was afraid to say anything because I knew that anyone with a differing opinion gained the wrath of Jones and other members.[Blakey, June 15, 1978.] ***
Bagaimana dengan organisasi Saksi Yehuwa? 99% Saudara tidak akan berhubungan langsung dengan badan pimpinan Saksi Yehuwa. Yang Saudara temui adalah duta-dutanya yaitu para Saksi Yehuwa yang berkunjung ke rumah dengan berpakaian rapi, sopan dan bertutur kata sangat santun tanpa melepaskan senyum di wajah. Saudara kagum dengan kepiawaian mereka membolak-balik Alkitab dan kemampuan mereka menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan ayat-ayat Alkitab dengan tepat dan jitu. Bahkan Saudara terpesona dengan pengetahuan umum mereka dan kelugasan menjawab masalah kehidupan. Semua penjelasan begitu masuk akal. Yang Saudara tidak tahu adalah mereka memang dilatih demikian untuk memberi kesan yang “wah”. Silahkan klik artikel Proses Internalisasi Doktrin Absolute menerangkan proses pembelajaran mereka.

Semua kesan itu akan sirna segera setelah Saudara dibaptis yang melambangkan pembaktian Saudara kepada organisasi Saksi Yehuwa. Saudara sudah dianggap matang secara rohani. Tanpa disadari, akan ada begitu banyak tuntutan yang harus Saudara kerjakan tanpa boleh mengatakan “tidak” jika tidak ingin dinilai “sakit secara rohani”, melanggar standard Yehuwa dan lambang pembaptisan Saudara kepada Yehuwa yang diwakili oleh organisasi Menara Pengawal. Bagi Saudara berlaku suatu pemahaman bahwa kehendak organisasi (diwakili kaum budak) berarti kehendak Yehuwa. Memberontak kepada organisasi berarti memberontak kepada Yehuwa. Demikian juga Saudara harus tunduk dan setia kepada kaum budak karena jika Saudara tunduk dan loyal kepadanya dianggap sama Saudara tunduk kepada Kristus. Keselamatan kekal Saudara bergantung apakah Saudara bergabung dengan organisasi Yehuwa. Demikian juga Saudara juga tidak boleh mempertanyakan keabsahan tafsiran maupun peraturan yang berlaku karena diklaim semuanya berdasarkan Alkitab dan untuk kebaikkan Saudara. Jika Saudara bersikukuh mempertanyakannya maka Saudara akan dianggap seperti setan mempertanyakan otoritas Allah sendiri (klik Berpikir Mandiri Dan Berpendapat Bebas untuk detailnya). Pada akhirnya, siapakah di muka bumi ini berani menentang Allah semesta alam, bukan?:

Karena “budak yang setia dan bijaksana” telah dipercayakan dengan seluruh milik Tuan, maka marilah kita melihat dengan persepsi mental yang tepat bahwa apa pun 'budak yang setia' lakukan adalah untuk kebaikan kita. Budak ini dengan demikian memenuhi kewajiban sendiri di hadapan TUHAN untuk mendapatkan pekerjaan-Nya terselesaikan. Oleh karena itu kehendak budak adalah kehendak Yehuwa. Pemberontakan terhadap budak adalah pemberontakan terhadap Allah. Sikap mental yang tepat terhadap arahan budak merupakan bagian dari menjaga kecepatan dengan masyarakat Dunia Baru.

Since the “faithful and discreet slave” has been entrusted with all the Master’s goods, then let us view with proper mental perception that whatever the ‘faithful slave’ does is for our good. The slave is thereby fulfilling its own obligation before Jehovah in getting His work done. Therefore the slave’s will is Jehovah’s will. Rebellion against the slave is rebellion against God. A proper mental attitude toward the slave’s direction is a part of keeping pace with the New World society. (Menara Pengawal, 1/6/1956, hlm 346 par. 11, merah dari saya)

Alasan mendasar untuk memperlihatkan respek yang sepatutnya kepada golongan budak yang setia adalah karena dengan melakukannya, kita sebenarnya merespek sang Majikan, Yesus Kristus. Paulus menulis tentang kaum terurap, ”Ia yang adalah orang merdeka ketika dipanggil adalah budak Kristus. Kamu dibeli dengan harga tertentu.” (1 Korintus 7:22, 23; Efesus 6:6) Jadi, apabila kita dengan loyal tunduk kepada arahan budak yang setia dan Badan Pimpinannya, kita sebenarnya tunduk kepada Kristus, Majikan budak itu. Memperlihatkan respek yang sepatutnya kepada sarana yang Kristus gunakan untuk mengelola harta miliknya di bumi merupakan salah satu cara kita ”mengakui secara terbuka bahwa Yesus Kristus adalah Tuan bagi kemuliaan Allah, sang Bapak”.—Filipi 2:11. (Menara Pengawal, 1/4/2007, hlm. 24)
Steve Hassan dalam bukunya Combatting Mind Control hlm. 80 mengatakan bahwa ketaatan absolute kepada pemimpin kultus merupakan salah satu tema universal kultus di mana para anggotanya harus tunduk dan taat kepada grupnya melampaui kepentingan pribadinya. Fokus utamanya adalah tujuan grup bukan kesejahteraan individualitas anggotanya:

Kehendak Grup di atas Kehendak Individual — Di dalam semua kultus yang destruktif seseorang harus tunduk kepada kelompok. “Keseluruhan tujuan” harus menjadi fokus; “tujuan pribadi diri” harus tunduk. Di dalam grup manapun yang memenuhi kualifikasi sebagai kultus yang destruktif, berpikir akan diri sendiri ataupun untuk diri sendiri adalah salah. Grup yang utama. Ketaatan absolute kepada atasan merupakan salah satu tema universal dalam kultus. Individualitas tidak baik. Ketundukkan adalah baik.

Group Will over Individual Will — In all destructive cults the self must submit to the group. The “whole purpose” must be the focus: the “self purpose” must be subordinated. In any group that qualifies as a destructive cult, think of oneself or for oneself is wrong. The group comes first. Absolute obedience to superiors is one of the most universal themes in cults. Individuality is bad. Conformity is good. (hlm .80)
Pada tahap ketaatan absolute, pemimpin kultus dapat menjadi sangat otoriter di mana ia mampu melakukan apapun juga tanpa mendapatkan halangan ataupun tentangan dari para anggotanya. Seperti misalnya Jim Jones mampu mengajak para anggotanya sebanyak 900-an orang melakukan bunuh diri diri massal tanpa mendapatkan perlawanan sedikit pun. Bagi kacamata orang normal yang berada di luar pengaruh pemimpin kultus, apa yang dilakukan pengikut Jones  (People's Temple) merupakan hal-hal di luar akal sehat manusia. Demikian juga para teroris yang melakukan bom bunuh diri atas nama Allah di Indonesia membuat kita yang bernalar baik tidak habis mengerti mengapa mereka melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Ironisnya hal ini terjadi. Mengapa? Kuncinya hanya satu yaitu para pengikut kultus sudah dikondisikan sedemikian rupa untuk taat total (absolute obedience) kepada pemimpinnya meskipun perintah itu tidak masuk akal atau irrasional bahkan membahayakan dirinya. 

Ketaatan pada pihak otoritas (obedience to authority) telah dibuktikan oleh seorang sosial psikologist bernama Stanley Milgram dalam suatu eksperimen kontroversial karena dilakukan atas manusia untuk membuktikan hal ini. Topik eksperimennya adalah tentang “ketaatan pada pihak otoritas (obedience to authority)***. Dalam eksperimennya disimpulkan bahwa seseorang taat kepada pihak yang berwenang atau berotoritas dapat terjadi — meskipun apa yang dilakukannya bertentangan dengan penilaian atau keinginannya sendiri — karena rasa takut atau ingin terlihat bekerja sama dengan pihak berwenang.

Para Saksi Yehuwa pernah mengalaminya masa irrational taat yaitu saat organisasi Saksi Yehuwa bernubuatan palsu bahwa pada tahun 1975 akan berakhirnya sejarah manusia. Para Saksi menjual rumah, menunda kehamilan/pernikahan dan berhenti sekolah karena percaya bahwa nubuatan palsu itu akan terjadi. Baca Ajaran Saksi Yehuwa: Pengaruh Dan Akibatnya. Jika ada Saksi Yehuwa tidak percaya kepada nubuatan itu, maka ia akan dikucilkan dan dipecat karena dianggap tidak meyakini doktrin yang dicetuskan oleh organisasi Saksi Yehuwa.

Sekarang kita lihat kutipan berikut ini yang menyatakan bahwa para Saksi Yehuwa diminta taat arahan apapun meskipun perintah organisasi Yehuwa tidak masuk akal dari kacamata manusia, tidak soal Saksi Yehuwa setuju atau tidak, karena perintah itu akan menyelamatkan kehidupan para Saksi Yehuwa. Perhatikan juga permintaan organisasi point no. 4.

Para penatua yang membaca artikel ini bisa menarik beberapa pelajaran berguna dari kisah yang baru saja kita bahas: (1) Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk bersiap-siap menghadapi serangan ”Asiria” [musuh] kelak adalah menguatkan iman kita kepada Allah dan membantu saudara- saudari kita melakukan hal yang sama. (2) Sewaktu ”Asiria” [musuh] menyerang, para penatua harus yakin sepenuhnya bahwa Yehuwa akan menyelamatkan kita. (3) Pada saat itu, petunjuk dari organisasi Yehuwa mungkin tampaknya tidak masuk akal dari kacamata manusia. Tapi, kita semua harus siap menaati arahan apa pun yang kita terima, tidak soal kita setuju atau tidak, karena hal itu akan menyelamatkan kehidupan kita. (4) Sekaranglah waktunya bagi siapa pun yang mengandalkan pendidikan duniawi, hal-hal materi, atau lembaga-lembaga manusia untuk mengubah cara berpikir mereka. Para penatua harus siap membantu siapa pun yang belum mengandalkan Yehuwa sepenuhnya. (Menara Pengawal, 15/11/2013, hlm. 20, merah dari saya)
Renungkan kalimat “kita semua harus siap menaati arahan apa pun yang kita terima, tidak soal kita setuju atau tidak, karena hal itu akan menyelamatkan kehidupan kita”. Ketaatan absolute dikaitkan dengan keselamatan Saksi-Saksi Yehuwa terlepas apakah Saksi setuju ataupun tidak dengan arahan yang akan diterimanya. Tentunya ketika menyangkut keselamatan, setiap Saksi Yehuwa pasti akan taat, bukan?

Ya, perintah untuk taat secara absolute demikianlah yang memampukan Jim Jones mengajak para anggotanya bunuh diri massal meskipun dari kacamata manusia merupakan hal yang tidak masuk akal. Bagaimana dengan Saksi Yehuwa? Tentunya Saudara akan berkata tidaklah mungkin organisasi mengajak bunuh diri massal seperti kasus Jim Jones. Tetapi tunggu dulu. Bunuh diri massal mungkin “tidak” tetapi bunuh diri satu per satu telah terjadi selama bertahun-tahun ketika seorang Saksi Yehuwa menolak menerima transfusi darah meskipun secara medis membutuhkannya berdasarkan tafsiran makan darah disamakan dengan transfusi darah. Korbannya jika diakumulasi sudah melebihi dari 900 orang korban Jim Jones. Silahkan klik google untuk mencari tahu akan hal ini. Perintah-perintah atas nama Allah yang tidak masuk akal inilah yang membuat suatu kelompok disebut sebagai kultus destruktif. 

Merampas individualitas dan kehendak bebas anggotanya

Ketika seseorang dibaptis untuk menjadi seorang Saksi Yehuwa maka ia dinilai sudah matang secara rohani karena ia tidak saja telah belajar doktrin Saksi Yehuwa tetapi juga semua peraturan yang ada di organisasi mengikatnya. Termasuk pernyataan di atas yaitu “kita semua harus siap menaati arahan apa pun yang kita terima, tidak soal kita setuju atau tidak, karena hal itu akan menyelamatkan kehidupan kita

Seluruh hidup Saksi Yehuwa telah berubah total; baik sisi pemikiran dan aktifitas. Ada begitu banyak do and don't yaitu peraturan-peraturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan yang mengikat hidupnya berdasarkan tafsiran organisasi Saksi Yehuwa atas Alkitab. Misalnya ia tidak boleh merayakan ulang tahun sendiri, tahun baru, menghadiri ulang tahun siapapun, menerima/memberi transfusi darah, kegiatan OSIS, pramuka, olah raga bela diri, main catur, bahkan sampai urusan ranjang suami istri pun seperti (maaf) oral seks tidak diperkenan dan begitu banyak hal lainnya yang saya tidak dapat sebutkan satu per satu. Silahkah tanya Saksi Yehuwa akan hal ini ketika bertemu. Pokoknya, sekarang hidup Seorang Saksi dikontrol dengan ketat. Semuanya “katanya” dibuat untuk kebaikannya dan berdasarkan “tafsiran” Alkitab. Inilah yang dimaksud Steve Hassan bahwa pemimpin kultus “merampas individual dan kehendak bebas” anggotanya karena anggotanya tidak mampu lagi melakukan sesuatu berdasarkan kehendak bebasnya melainkan pemimpin kultus lah yang menentukan “apa yang boleh dan tidak boleh” dikerjakannya. 

Pada tahap ini, seorang Saksi Yehuwa mutlak tidak boleh berpikir bebas berdasarkan hati nurani ataupun pikirannya sendiri melainkan harus memiliki kesatuan dan berharmonis dengan rekan-rekan seimannya dari sisi perilaku, pikiran dan doktrin oleh karena itu ia tidak boleh mempromosikan atau bersikeras pada opini pribadi ataupun mempertahankan gagasan pribadinya. Berikut kutipannya:

Pertama-tama, karena ”kesatuan” harus dipertahankan, seorang Kristen yang matang harus bersatu dan sepenuhnya harmonis dengan rekan-rekan seiman dalam ruang lingkup iman dan pengetahuan. Ia tidak mempromosikan atau bersikeras pada opini pribadi atau mempertahankan gagasan pribadi bila halnya menyangkut pemahaman Alkitab. Sebaliknya, ia memiliki keyakinan penuh pada kebenaran mengingat itu disingkapkan oleh Allah Yehuwa melalui Putra-Nya, Yesus Kristus, dan ”budak yang setia dan bijaksana”. Dengan menyantap makanan rohani yang disediakan ”pada waktu yang tepat” secara teratur—melalui publikasi Kristen, perhimpunan, dan kebaktian—kita dapat yakin bahwa kita mempertahankan ”kesatuan” dengan sesama Kristen dalam iman dan pengetahuan.—Matius 24:45.(Menara Pengawal, 1/8/2001 hlm. 14)
Oleh karena itu, jika Saudara sudah bertemu dengan seorang Saksi Yehuwa maka Saudara sebenarnya sudah bertemu dengan seluruh Saksi Yehuwa di seluruh dunia karena mereka memiliki pola pikir, perilaku dan ajaran yang sama.

Bagaimana jika seorang Saksi Yehuwa melanggar peraturan yang ditetapkan yang katanya berdasarkan tafsiran Alkitab? Akan ada suatu komite pengadilan secara tertutup yang dilakukan oleh badan penatua untuk menentukan disiplin apa yang akan terjadi kepada para Saksi Yehuwa. Hukumannya dari pengucilan sampai pada pemecatan. Silahkan baca Aturan Menara Pengawal: Putusnya Hubungan Keluarga

Sang Pemimpin secara aktif menipu anggotanya

Hassan berkata “Orang tidak bergabung dengan kultus. Kultus lah yang merekrut orang (People don't join cults. Cults recruit people)” adalah benar. Saya pernah bertanya kepada seorang penatua Saksi Yehuwa berapa persentasekah orang baru yang datang ke Balai Kerajaan tanpa mendapat undangan. Tanpa menyebutkan persentasenya dijawab sangat. . . sangatlah sedikit. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika setiap Saksi Yehuwa berkeliling dari rumah ke rumah untuk merekrut orang untuk dijadikan anggota organisasi Yehuwa agar selamat. Kita lihat komentar dari seorang mantan Saksi Yehuwa berikut ini:

ANGGOTA SSY MENDATANGI RUMAH ORANG KRISTEN DAN AGAMA LAIN BERDALIH PELAJARAN AL~KITAB SECARA GRATIS DAN ITU HANYA LAH TOPENG NYA SAJA PADA HAL NIAT ASLI NYA HANYA LAH MENCARI ANGGOTA (Di sini)
Pertanyaannya adalah mengapa dan apa tujuan organisasi Saksi Yehuwa merekrut orang? Untuk dieksploitasi dan dimanipulasi secara finansial dan beroleh tenaga kerja gratis dari anggotanya! Business utama organisasi Saksi Yehuwa adalah percetakan buku dan para Saksi Yehuwa dijadikan captive marketnya. Jadi sebenarnya ini adalah bisnis percetakan dengan dalih penginjilan dan sumbangan sukarela dengan sistem member get member. Silahkan klik Bisnis Menara Pengawal: Menjual Buku.

Bagaimana seseorang bisa direkrut, dimanipulasi dan diekploitasi? Semua terjadi karena pemimpin kultus secara aktif menipu anggotanya dan melalui teknik mind control! Sejak seseorang pertama kali belajar Alkitab dengan Saksi Yehuwa, seorang calon korban telah masuk dalam perangkap propaganda informasi yang menyesatkan. Misalnya tentang ajaran Tritunggal yang dicampur -aduk dengan modalisme dan banyak dusta-dusta lainnya termasuk kepalsuan klaim pemilihan ilahinya, dan sejarahnya. Silahkan klik Dusta Organisasi Saksi Yehuwa untuk lengkapnya. Bahkan ketika seorang Saksi Yehuwa tersadarkan telah tertipu ia akan mengalami kesulitan keluar lingkungan pengaruh manipulasi dan eksploitasi organisasi karena adanya praktek pengucilan di mana hubungan keluarga dapat terputus dan terpecah-belah. 

Apa yang saya sampaikan kelihatannya suatu hal yang mustahil yaitu suatu organisasi agama seperti Lembaga Menara Pengawal yang mengajarkan Alkitab dan menerapkan standard moralitas yang demikian tinggi ternyata menggunakan penipuan untuk memanipulasi dan mengeksploitasi orang. Bagaimana orang bisa terjerat dan tertarik? Berdasarkan majalah Sedarlah! edisi 22 Juni 2000 hlm. 9 yang membahas tentang propagandis ulung mengungkapkan motivasi kultus yang sebenarnya yaitu organisasi Saksi Yehuwa sebagai “Propagandis memastikan bahwa pesannya tampak benar dan bermoral, dan itu membuat Anda merasa diri penting serta terikat jika Anda memperhatikan pesan itu”. Ya, benar. Jika organisasi Saksi Yehuwa mengajarkan kefasikan maka jelas tidak akan ada orang yang mau menjadi pengikutnya. Sebaliknya, dengan kedok mengajarkan Alkitab dan standard moralitas yang tinggi maka pesan yang disampaikannya itu terlihat tampak benar dan bermoral sehingga membuat calon korbannya tertarik dengan pesan yang disampaikan. 2 Kor. 11:14 menegaskan, “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang

Ini yang dilakukan oleh Jim Jones dalam merekrut orang Kristen menjadi anggotanya. Jim Jones sebenarnya penganut Marxisme (komunis). Dan sangat jelas pahamnya itu sangat bertentangan dengan Alkitab. Dan Untuk menyebar-luaskan pemahamannya itu tentunya sulit di Amerika yang berpaham liberal dan anti paham Marxisme. Dan untuk memuluskan rencananya itu, Jones akhirnya memutuskan suatu langkah yang radikal yaitu menyusup ke gereja dengan belajar doktrin dan menjadi pendeta. Jadi jelas, sebenarnya motivasi Jones awalnya sangat jelas yaitu ia ingin menyebar-luaskan paham Marxisme, tetapi karena sulit maka ia berubah haluan dengan menyusup ke dalam gereja agar pesannya terlihat nampak benar dan bermoral. Dengan memberikan pesan berdasarkan Alkitab, maka ia dengan mudah menarik pengikut-pengikutnya untuk dimanipulasi dan diekploitasi. Berikut pernyataannya:

Saya memutuskan, bagaimana saya bisa mendemontrasikan paham Marxisme saya? Pemikirannya, menyusup ke gereja. Sehingga saya secara sadar membuat  sebuah keputusan untuk melihat prospek tersebut.

I decided, how can I demonstrate my Marxism? The thought was, infiltrate the church. So I consciously made a decision to look into that prospect.#
Demikian juga dengan organisasi Saksi Yehuwa. Dengan kedok pelajaran Alkitab, memberitakan injil dan pesan moralnya berdasarkan Alkitab telah memperoleh banyak pengikut untuk dieksploitasi secara tenaga dan finansial demi kepentingan organisasi kultus Saksi Yehuwa. Dan salah satu cara menghambat penyesatan dan pengeksploitasian orang Kristen adalah dengan memberikan informasi yang tepat dan benar kepada orang Kristen sebelum ia terpengaruh oleh teknik mind control. Oleh sebab itu, saya himbau kepada orang Kristen, pembaca blog ini, agar mereferensikan blog ini kepada rekan seiman dan keluarga melalui media sosial sehingga orang-orang yang kita kasihi terhindar dari jeratan organisasi kultus Menara Pengawal.

Yang membedakan antara grup kultus berkedok agama Kristen dengan organisasi Kristen sejati adalah dalam sistem perekrutannya. Atas nama perintah Kristus yaitu pemuridan dan penginjilan (Mat. 28:19), setiap anggota kultus diwajibkan untuk merekrut anggota baru karena diyakini bergabung dengan grupnya akan beroleh selamat dan pimpin kultus adalah sang pengantara antara Allah dan manusia menggantikan posisi Kristus. Jadi calon anggota selalu diarahkan kepada organisasi atau sang pemimpin kultus yang menjadi penyembahan berhala modernnya tanpa disadarinya. Oleh karena itu, metode perekrutan selalu bersifat personal dan one on one basis (pribadi dan satu per satu) di mana personal interaksi terlibat. Kita lihat kutipan berikut ini di mana Saksi Yehuwa diminta mengarahkan calon peminatnya kepada organisasi. Perhatikan kalimat berwarna merah:

Arahkan Minat kepada Organisasi: Sejak kontak pertama kita dengan para peminat, kita hendaknya mengarahkan perhatian mereka kepada organisasi. Meskipun kita mungkin secara pribadi dapat menemukan ayat-ayat dan menjelaskan doktrin-doktrin dasar, kita bukanlah sumber dari pengetahuan demikian. Segala sesuatu yang kita pelajari berasal dari organisasi ini, disalurkan melalui golongan hamba yg menyediakan ”makanan pada waktunya”. (Mat. 24:45-47) Dari sejak permulaan, para peminat perlu menyadari bahwa ibadat yang sejati melibatkan lebih dari pada sekadar diri kita atau bahkan sidang setempat; terdapat suatu lembaga teokratis yang diorganisasi di seluruh dunia yang berjalan di bawah pengarahan Yehuwa. (Pelayanan Kerajaan Kita, 04/1993, hlm. 3-4)
Sebaliknya, orang Kristen tidak melakukan pengrekrutan agar seseorang bergabung dengan organisasinya, melainkan mengarahkan non-Kristen kepada Kristus langsung yang memberi keselamatan yang bersifat universal. Oleh karena itu, penginjilannya tidak bersifat personal dan one on one basis melainkan berupa massal, misalnya berupa KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), TV ataupun radio. Yang diutamakan bukan bergabung dengan kelompoknya, melainkan agar orang bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Setelah itu, ia bebas berhimpun di gereja manapun sesuai dengan hati nuraninya.

Oleh karena itu, jika grup kultus melakukan penginjilan massal maka tidak akan pernah berhasil untuk merekrut orang karena obyek penyembahannya berbeda; kultus untuk selamat harus bergabung dengan organisasi dan sang pemimpin sebagai perantara sehingga bersifat eksklusif. Dilain pihak, Kristen mengarahkan kepada Kristus langsung dan ini bersifat universal. Dulu Lembaga Menara Pengawal di masa Joseph Rutherford melakukan penginjilan melalui radio, tetapi metode ini telah ditinggalkan karena memang tidak akan berhasil dalam merekrut orang bergabung dengan organisasi untuk beroleh selamat.  

Bagaimana pendapat Saudara, apakah organisasi Saksi Yehuwa telah memenuhi kriteria pertama kultus yaitu kepemimpinan otoriter?

Artikel terkait:
1. Bukti Saksi Yehuwa Kultus Berdasarkan Publikasi Menara Pengawal
2. Apakah Saksi Yehuwa Percaya Yesus, Allah Dan Alkitab?
3. Ajaran Saksi Yehuwa: Bidat Atau Sejati?
4. Nabi Palsu Berseru: Kiamat! Kiamat!!


Ada jalan yang lurus dalam pandangan seseorang, tetapi ujungnya adalah jalan-jalan kematian (Amsal 18:25, NW)

*     http://www.freedomofmind.com/Info/infoDet.php?id=407
**   http://www.guyana.org/features/jonestown.html
*** http://nature.berkeley.edu/ucce50/ag-labor/7article/article35.htm
#     http://en.wikipedia.org/wiki/Peoples_Temple


DITERBITKAN PADA 9/21/2013 08:40:00 PM


dan Anda sedang membaca makalah Sebuah Kultus Di Balik Organisasi Saksi Yehuwa dengan judul Kriteria Pertama KULTUS: Kepemimpinan Otoriter. Anda bisa bookmark Website Ajaran Agama Islam ini dengan URL http://islam.infoberguna.com/2013/09/kriteria-pertama-kultus-kepemimpinan.html. See you.... :-) Ajaran Agama Islam

0 blogger-facebook:

Post a Comment