UPAYA GERAKAN APRA DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DARI ANCAMAN DISINTEGRASI BANGSA

RINALDI AFRIADI SIREGAR/ PIS

Kabinet RIS di bawah pimpinan Moh. Hatta berakhir tanggal 17 Agustus 1950. Mulai tanggal 17 Agustus 1950 itu, RIS berubah dan kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai suatu Negara yang baru diakui kedaulatannya, Indonesia masih harus menghadapi rongrongan dari dalam yang dilakukan oleh beberapa golongan yang mendapatkan dukungan dari Belanda atau mereka yang khawatir akan kehilangan hak-haknya bila Belanda meninggalkan Indonesia. Salah satunya Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling. APRA bertujuan mempertahankan bentuk federal di Indonesia dan adanya tentara pada negara-negara bagian RIS. Gerakan APRA yang terdiri dari 800 orang, 300 orang diantaranya adalah anggota KL (Koninklijk Leger) bersenjata lengkap, menyerang kota Bandung pada pagi hari tanggal 23 Januari 1950.
Salah satu selubung gerakan tersebut adalah kepercayaan rakyat akan datangnya Ratu Adil. Westerling memahami bahwa sebagian besar rakyat Indonesia telah lama menderita akibat penjajahan Belanda dan Jepang. Rakyat Indonesia mendambakan suatu masa kemakmuran seperti yang diramalkan "Jangka Jayabaya". Menurut ramalan itu akan dating seorang pemimpin yang disebut Ratu Adil yang akan memerintah rakyat dengan adil dan bijaksana.
 APRA bertujuan mempertahankan bentuk federal di Indonesia dan mempertahankan adanya tentara tersendiri pada negara-negara bagian RIS. Padahal pada Konferensi Antar Indonesia di Yogya telah disetujui bahwa APRA adalah Angkatan Perang Nasional.
Sejak tanggal 22 Januari 1950 pimpinan Divisi Siliwangi telah mensinyalir adanya suatu gerakan sekelompok orang bersenjata di luar kota Bandung. Gerakan itu adalah gerombolan yang dipimpin oleh Westerling dengan pengikutnya telah memasuki kota Bandung. Secara ganas mereka membunuh setiap anggota TNI yang dijumpai. Gerombolan APRA di kota Bandung segera mendapat perhatian dari pemerintah. Pemerintah RI mengadakan perundingan dengan Komisaris Tinggi Belanda dan Komandan Garnisun Belanda yang masih ada di kota Bandung. Hasil perundingan itu adalah mendesak gerombolan APRA keluar dari Bandung dan bergerak ke Jakarta. Di Jakarta, APRA merencanakan membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo, dan Kepala Staf Angkatan Perang, Kolonel Simatupang.
Meskipun mendapat bantuan dari Sultan Abdul Hamid II yang juga menjabat sebagai menteri dalam Kabinet RIS, tetapi serangan gerombolan APRA dapat dikalahkan pasukan APRIS. Setelah merasa gagal, Westerling melarikan diri ke Malaya dengan menumpang pesawat Catalina milik Belanda. Pengikut gerakan APRA segera membubarkan diri dan tercerai-berai. Dengan keluarnya Westerling ke luar negeri maka berakhir pemberontakan APRA.
DAFTAR PUSTAKA :
Album 86 Pahlawan Nasional dan Sejarah Perjuangannya. 1985. Jakarta: Bendera Jaya.
Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950. 1985. Jakarta: BP Alda.
http://gaara-ismaya.blogspot.com/2012/03/usaha-mempertahankan-kemerdekaan-dan.html


DITERBITKAN PADA 9/30/2013 08:11:00 PM


dan Anda sedang membaca makalah APRA dengan judul UPAYA GERAKAN APRA DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DARI ANCAMAN DISINTEGRASI BANGSA. Anda bisa bookmark Website Ajaran Agama Islam ini dengan URL http://islam.infoberguna.com/2013/09/upaya-gerakan-apra-dalam-mempertahankan.html. See you.... :-) Ajaran Agama Islam

0 blogger-facebook:

Post a Comment