Hukum Islam Perkawinan usia Dini Muda

PERKAWINAN USIA DINI / USIA MUDA

Oleh

Drs. Guperan Sahyar Gani, B., S.Pd

A. TINJAUAN PERKAWINAN MENURUT AJARAN ISLAM

Perkawinan atau pernikahan adalah sesuatu yang suci sakral, memiliki makna dan arti yang sangat mendalam menjalankan sunnah rasul dan bagian dari pada ibadah kepada Allah swt dengan tujuan membina kehidupan suami istri dalam ikatan lahir bathin yang menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia sejahtera, mateial spiritual, aman damai, rukun tuntung pandang yang dalam bahasa agama disebut dengan keluarga sakinah sa’adah dan marhamah. (Baiti Jannati).

Betapa luhur dan mulianya sebuah perkawinan atau pernikahan, maka sudah seyogyanya harus diperhatikan, dipertimbangkan serta dipikirkan dengan matang terlebih dahulu ketika seorang pria atau wanita menjatuhkan pilihan untuk menjadi teman hidupnya, ia harus memikirkan tentang segala sesuatu yang muncul dari rangkaian akibat yang muncul di balik peristiwa pernikahan itu.

Karena perkawinan bukanlah sesuatu yang harus dijadikan arena bereksperimen, hanya sekedar “coba-coba” atau hanya sekedar ingin tahu, hanya untuk main-main dan seterusnya.

Perkawinan harus dilaksanakan sesuai dengan hukum dan ketentuan agama (hukun munakahat) dan peraturan perundang-undangan

4 Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel 5 yang berlaku. Perkawinan yang tidak dilaksanakan sesuai dengan perundangan yang berlaku kelak dapat mengakibatkan masalah dalam kehidupan keluarga, sedang kehidupan suami istri di luar perkawinan adalah perzinaan (kumpul kebo) dan perzinaan dalam agama Islam adalah termasuk dosa besar.

Dalam Undang-Undang perkawinan dan hukum perkawinan Islam terdapat ketentuan dan peraturan tentang dasar, tujuan, rukun dan syarat perkawinan. Secara singkat hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut;
Dasar dan tujuan perkawinan menurut Undang-undang No. 1 tahun
74, tentang Perkawinan tercantum pada pasal 1 dan pasal 2. Dalam pasal 1 disebutkan : perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selanjutnya dalam pasal 2 disebutkan:

1. Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-
masing agamanya dan kepercayaannya itu.

2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

B. BEBERAPA DALIL AL-QUR`AN DAN HADITS YANG

BERHUBUNGAN DENGAN PERKAWINAN DAN PERNIKAHAN

Di antara nas Alquran dan hadits rasul saw yang berhubungan dengan perkawinan adalah:

Dan kawinlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang berpekerti baik termasuk hamba-hamba sahayamu baik yang laki-laki atau yang perempuan (Q.S. An-Nur : 32)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan  untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (Ar-Rum ; 21).

Rasul saw bersabda:

Hai sekalian Pemuda, barangsiapa di antara kamu yang telah sanggup kawin maka hendaklah ia kawin, maka sesungguhnya kawin itu menghalangi pandangan (terhadap yang dilarang oleh agama) dan memelihara faraj. Dan barangsiapa yang tidak sanggup, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya. (HR. Buhari dan Muslim).

Perkawinan adalah sunahku, barang siapa yang benci kepada sunnahku (peraturanku) bukanlah ia termasuk golonganku (ummatku).
(HR. Bukhari dan Muslim).

Kawinlah perempuan-perempuan, karena sesungguhnya mereka itu akan mendatangkan harta dan kekayaan. (HR. Bazar dan Khatib dari Aisyah)

Istri-istrimu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok tanam maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana saja kamu kehendaki (Q.S Al Baqarah:223)

C. PERKAWINAN USIA DINI / USIA MUDA

Undang-undang perkawinan mengamanatkan kepada kita bahwa usia perkawinan minimal untuk wanita 16 tahun dan pria 19 tahun. Bila seorang wanita di bawah umur 16 tahun akan melangsungkan suatu pernikahan, maka ia harus melalui izin Pengadilan. Demikian pula halnya pria atau laki-laki yang kurang 19 tahun maka harus dengan izin atau rekomendasi Pengadilan dan di bawah 21 tahun harus dengan izin orang tua.

Undang-undang perkawinan di atas tentu tentu lebih berorientasi pada kemaslahatan serta azas manfaat dan efektivitas dilakukannya sebuah pernikahan bagi kedua belah pihak baik mempelai laki-laki dan juga mempelai wanita. Mengingat usia 16 tahun ke bawah bagi seorang wanita dan 19 tahun ke bawah bagi laki-laki merupakan masa-masa yang rawan dan kritis atau masa transsisi yang mana tingkat kemampuan dan ematangan jiwa, raga, pisik, emosional dan kecerdasan sosialnya belum sempurna.

Ketika pada usia-usia seperti ini dipaksakan untuk kawin, maka dikhawatirkan akan muncul masalah-masalah dan problema bahkan dilema sebuah perkawinan. Pada usia ini seseorang semestinya mengecap dan menjalani bangku pendidikan/sekolah/kuliah sebagai modal dasar dan modal awal untuk menghadapi masa depan yang lebih baik.

Secara umum perkawinan usia muda/usia dini disebabkan beberapa faktor.

a. Tuntutan dan himpitan ekonomi keluarga
Ketika tuntutan ekonomi keluarga, terjadi krisis keuangan, ketiadaan biaya untuk melanjutkan sekolah (drop out) atau kegagalan dalam pendidikan, bisa memicu terjadinya potong kompas dan jalan pintas yaitu kawin usia dini sebagai alternatif solusi.

Maraknya gaya hidup bebas, dan pergaulan muda-mudi tanpa batas sehingga sering terjerumus pada perzinaan atau hamil di luar nikah.

Maraknya pornoaksi dan pornografi, tayangan-tayangan film sinetron drama dan teater gambar dan poster, buka-buku, majalah, buletin, dan bacaan-bacaan porno yang merusak mental dan jiwa anak-anak dan remaja atau generasi muda.

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman dari seks bebas dari segala dampak negatif dan problematikanya yang muncul akibat seks bebas tersebut.

Adat istiadat dan budaya yang masih kental di masyarakat di mana ketika seseorang memiliki atau menyimpan dan membiarkan anak gadisnya agak terlambat untuk menikah maka terjadi aib bagi keluarga
yang bersangkutan.

Menganggap bahwa perempuan sebagai warga negara kelas dua yang kehidupannya hanya berkisar dan berkembang pada sumur, dapur dan kasur, artinya perempuan hanya jadi pelengkap dan obyek penderita.

D. MASALAH DAN PROBLEMA YANG TIMBUL AKIBAT

PERKAWINAN USIA MUDA

Di antara sekian banyak masalah yang muncul dari perkawinan usia muda adalah :

1. Kurangnya pemahaman tentang tugas, fungsi, hak dan kewajiban serta tanggung jawab yang harus dipikul baik sebagai suami juga sebagai istri.

2. Belum matang secara fisik/psikis, prilaku dan emosional seseorang untuk menempuh kehidupan berumah tangga.

3. Sering terjadi konflik dalam rumah tangga yang berujung pada perselisihan dan perceraian.

E. BEBERAPA SOLUSI DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA

1. Sosialisasi undang-undang perkawinan yang lebih efektif dan terkoordinasi antar lembaga dan instansi terkait.

2. Peningkatan sumber daya manusia melalui bidang pendidikan formal di sekolah dan pendidikan non formal di masyarakat umum untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak dan remaja usia sekolah untuk terus maju menuntut ilmu dan berprestasi.

3. Perlu pemahaman yang besar tentang kesadaran gender emansipasi yang proporsional yang menempatkan wanita pada posisi terhormat dan mulia, soko guru generasi penerus yang beriman dan berakhlak mulia.

4. Bagi kaum hawa perlu dipacu semangat dan motivasi agar perempuan senantiasa berpikiran maju berkiprah dan berkarya di tengah masyarakat demi tegak dan majunya sebuah negara.

5. Mengutip pendapat dari seorang tokoh dan intelektual Islam Prof. Dr. H. Abdul Mukti Ali Mantan Menteri Agama RI, beliau menandaskan “Kalau orang bertanya bagaimana caranya membangun negara yang kuat, maka jawabnya negara yang kuat adalah terdiri dari rumah tangga yang adil dan negara yang makmur adalah terdiri dari rumah-tangga yang makmur. Jadi kalau ingin membangun negara kita dengan sebaik-baiknya, maka keluarga yang menjadi isi rumah tangga harus kita bangun sebaik-baiknya. Tanpa membangun keluarga mustahil akan tercapai pembangunan negara.

DITERBITKAN PADA 8/07/2014 10:41:00 PM


dan Anda sedang membaca makalah Ajaran Islam, Hukuman Islam, Islami, Islamic Love, Muda, PEMUDA, Perkawinan, Rahasia Islam, Renungan Islam, Sejarah Kebudayaan Islam dengan judul Hukum Islam Perkawinan usia Dini Muda. Anda bisa bookmark Website Ajaran Agama Islam ini dengan URL http://islam.infoberguna.com/2014/08/hukum-islam-perkawinan-usia-dini-muda.html. See you.... :-) Ajaran Agama Islam

0 blogger-facebook:

Post a Comment