Tuesday, January 8, 2013


Pernah mendengar nama Aristoteles? Atau paling tidak pernah membaca sejarah tentang filsuf Yunani ini.

Dari sumber yang saya baca di Wikipedia, Aristoteles adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung. Ia menulis berbagai subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi. Bersama dengan Socrates dan Plato, ia dianggap menjadi seorang di antara 3 orang filsuf yang paling berpengaruh dalam pemikiran Barat.

Ternyata dasar-dasar pemikiran Aristoteles telah disepakati atau didukung oleh para ahli filsafat Arab. Dan para pengikut Aristoteles menyematkan nama ajarannya dengan nama Aristotelianisme.

Dan Aristotelianisme adalah pandangan filsafat yang berasal dari Aristoteles (384-322 SM), bila dibandingkan dengan aliran Plato yang sebelumnya lebih bersifat realis. Pada mulanya gereja tidak mengindahkannya atau melawannya, namun kemudian etika, logika dan teori kausalitas serta pandangan Aristoteles mengenai jiwa manusia sebagai forma tubuh (tidak sama dengan Platonisme yang memandang tubuh sebagai penjara jiwa), besar pengaruhnya selama abad pertengahan, melalui dukungan para ahli filsafat Arab (Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina), Moses Maimonides (1135-1204) dan Thomas Aquinas (1255-1274).

Thomas Aquinas mengembangkan bukti-bukti adanya Allah atas dasar pemikiran Aristoteles, tetapi juga merintis pandangan bahwa jiwa itu kodratnya tidak dapat mati, hal yang tampaknya ditolak dalam Aristotelianisme.

Arti dasar dari Aristotelianisme adalah aliran yang mengikuti ajaran Aristoteles. Meski demikian, filsafat para pengikut Aristoteles tidak seluruhnya seragam. Untuk menunjuk para pengikut Aristoteles biasanya digunakan istilah netral "Aristotelian" dan bukan "paripatetik". Alasannya, istilah yang belakangan bisa saja menimbulkan kesan keliru bahwa metode pengajaran Aristoteles adalah percakapan sambil jalan-jalan.

Apa yang diajarkan oleh Aristoteles ternyata hampir menyamai apa yang dikatakan/diajarkan oleh para ahli filsafat Arab. Bahkan Thomas Aquinas pun serta merta mengembangkan bukti-bukti adanya Allah atas dasar pemikiran Aristoteles. Jadi dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan bahwa Aristoteles adalah Islam.

Jadi, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ajaran Islam saat ini sudah masuk ke dalam jeroan, bahkan sampai ke tulang belulang, dan mendarah daging.


EmoticonEmoticon