Saturday, April 20, 2013

Kepribadian dan keilahian Roh Kudus
KEPRIBADIAN ROH KUDUS
DOKTRIN TRITUNGGAL merupakan wahyu Allah yang bersifat progresif. Apakah maksud istilah “wahyu bersifat progresif”? Yaitu caranya Allah menyatakan diri atau maksud tujuan-Nya secara bertahap dalam satu kurun waktu ter­tentu, dan dari waktu ke waktu wahyu itu semakin lama semakin jelas.

Misalnya saja Alkitab mewahyukan janji tentang kedatangan Juru Selamat pertama kali di Kej. 3:15 yaitu nubuatan keturunan perempuan [benih Hawa] akan meremukkan kepala si Ular. Tentunya nubuatan ini sangat tidak jelas sehingga diperjelas di Kej. 49:10 bahwa Juru Selamat tersebut akan lahir dari suku Yehuwa. Tentunya keturunan dari suku Yehuwa ada banyak, oleh sebab itu kembali diperjelas di kitab Yes. 9:7 yaitu bahwa Mesias hanya akan berasal dari suku Yehuda keturunan raja Daud. Dan demikian seterusnya, nubuatan demi nubuatan di sepanjang Perjanjian Lama mewahyukan kedatangan, penderitaan, kematian dan kebangkitan Juru Selamat untuk menebus umat manusia dari segala dosanya. Pada akhirnya, semua nubuatan itu digenapi di dalam pribadi Yesus Kristus yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru.

Dari illustrasi ini kita dapat memahami bahwa Alkitab memang sungguh mengajarkan wahyu yang bersifat progresif. Saya persilahkan pembaca mengkaji artikel Doktrin Tritunggal: Wahyu Bersifat Progresif dan Ajaran Saksi: Pemahaman Progresif Atau KEBINGUNGAN? untuk membedakan antara wahyu yang bersifat progresif berdasarkan Alkitab dengan ajaran Menara Pengawal — juga menyebut wahyu progresif — yang tidak memiliki pola-pola yang sama dengan apa yang diajarkan Alkitab karena sebenarnya adalah perubahan total.

Jika Saudara sudah memahami penjelasan saya tentang wahyu yang bersifat progresif, maka kini waktunya saya membahas tentang kepribadian Roh Kudus yang juga dinyatakan secara progresif di dalam Alkitab. Saya juga mempersilahkan pembaca mengkaji artikel Doktrin ROH KUDUS: Masalah PERSONALITAS yang menjelaskan mengapa banyak orang salah memahami Roh Kudus sebagai seorang Pribadi Ilahi.

3 Komponen Kepribadian

Apakah komponen atau elemen-elemen yang membentuk “sesuatu” itu bersifat pribadi? Bersifat pribadi berarti “sesuatu” memiliki eksistensi seperti manusia; memiliki sifat atau keadaan seperti manusia. “Sesuatu” dapat disebut memiliki kepribadian individualitas atau bersifat pribadi jika memiliki 3 elemen yaitu kehendak, emosi dan intelektualitas.  Jika “sesuatu” tidak memiliki 3 elemen tersebut maka mustahil “sesuatu” itu adalah suatu personalitas yang berpribadian. Misalnya tenaga listrik. Jelas tenaga listrik tidaklah memiliki ke-3 elemen tersebut. Oleh karena itu, listrik bukan merupakan personalitas yang berkepribadian. Listrik tidak memiliki emosi (sedih, berduka dan lain-lain), tidak ada kehendak (memilih, memutuskan dan lain-lain) dan juga tanpa intelektualitas (berpikir, berpengetahuan dan lain-lain).

Ajaran Roh Kudus sebagai tenaga aktif Allah — tidak bersifat pribadi — yang diumpamakan sebagai tenaga listrik diambil oleh organisasi Saksi Yehuwa. Demikian Juga para teolog-teolog liberal seperti Schleirmacher mengajarkan bahwa Roh Kudus tidak berpribadi melainkan hanya sebagai suatu gerakan dan inspirasi yang bersifat agama saja. Perhatikan kutipan berikut yang menandaskan doktrin Menara Pengawal tentang Roh Kudus:
”ROH kudus” yang digunakan dalam Alkitab menyatakan bahwa ini adalah suatu kekuatan atau tenaga yang dikendalikan yang digunakan oleh Allah Yehuwa untuk melaksanakan berbagai maksud-tujuan-Nya. Sampai taraf tertentu, ini dapat disamakan dengan listrik, tenaga yang dapat digunakan untuk melakukan beragam fungsi. (Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal, hlm. 20)

Tidak, roh kudus bukan suatu pribadi dan bukan bagian dari suatu Tritunggal. Roh kudus adalah tenaga aktif Allah yang Ia gunakan untuk melaksanakan kehendak-Nya. Roh kudus tidak setara dengan Allah tetapi selalu dipakai oleh-Nya dan lebih rendah daripada Dia. (ibid, hlm. 23)
Nah, saya akan menjelaskan singkat kepribadian Roh Kudus di bawah ini yang dinyatakan secara progresif dalam Perjanjian Lama dan Baru.

Perjanjian Lama

Para penulis Perjanjian Lama menggunakan istilah “Roh Allah” dibandingkan dengan “Roh Kudus”. Bahkan PL tidak menulis secara tersurat akan kepribadian Roh Kudus. Secara umum, para penulis Alkitab tidak menganggap Roh Kudus sebagai pribadi melainkan “kuasa Allah”. Namun demikian, kepribadian Roh Kudus dinyatakan dalam beberapa bagian Alkitab. Misalnya pribadi Roh Kudus dibedakan dengan pribadi Allah (Bapa), contohnya:
  • Kej. 1:1-2: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. . . . dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”. Di sini di bedakan antara Pribadi Allah (Bapa) dengan Roh Allah (Roh Kudus).
  • Dan juga jika kita amati Kel. 31:1-3 terlihat perbedaan pribadi yang lebih jelas: “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa . . . dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah”. Terlihat perbedaan antara kata “Kupenuhi” dengan pribadi “Roh Allah” (Roh Kudus).
Demikian juga penulis PL sangat jarang meng-atribut-kan sifat-sifat pribadi kepada Roh Kudus sebagai seorang pribadi kecuali di beberapa bagian, misalnya Yes. 63:10: “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka”. Di ayat ini cukup jelas dinyatakan Roh Kudus berpribadi yaitu memiliki emosi (didukakan) dan kehendak yaitu berperang. Tetapi sekali lagi semuanya ini masih bersifat indikasi-indikasi ke arah kepribadian Roh Kudus.

Perjanjian Baru

Sebaliknya, di dalam Perjanjian Baru — khususnya Yohanes dan Kisah Para Rasul — secara eksplisit memberlakukan Roh Kudus sebagai oknum berpribadi. Misalnya ketika Kristus sendiri menyatakan di Yoh. 14:16 tentang janji ‘penolong yang lain’:
Dan aku akan memohon kepada Bapak dan ia akan memberikan kepadamu penolong yang lain untuk menyertai kamu selama-lamanya (TDB)

And I will pray the Father, and He will give you another Helper, that He may abide with you forever (NKJV)
Sehubungan dengan istilah “penolong yang lain” W.E. Vine dalam 'An Expository Dictionary of New Testament Words' mengatakan sebagai berikut:
Allos mengekspresikan sebuah perbedaan numerik dan menunjuk pada “yang lain dari jenis yang sama”; heretos mengekspresikan perbedaan kualitatif dan menunjuk pada “yang lain dari jenis yang berbeda.” Kristus menjanjikan mengirim “penolong yang lain” (allos “yang lain seperti Diri-Nya, tidak heteros”)

Allos expresses a numerical difference and denotes “another of the same sort”; heteros expresses a qualitative difference and denotes “another of a different sort.” Christ promised to send “another Comforter” (allos “another like Himself”, not heteros). Klik di sini utk linknya.
Apakah maksudnya? Kata Yunani yang digunakan dalam Yoh 14:16 yaitu “yang lain” bukanlah kata heteros, tetapi allos. Jika yang digunakan adalah istilah heteros, maka Roh Kudus sebagai “penolong yang lain” itu menunjukkan adanya perbedaan sifat dengan Yesus, sehingga bisa saja Yesus adalah Allah dan merupakan seorang yang berpribadi, sedangkan Roh Kudus bukan. Namun demikian, karena kata Yunani yang digunakan adalah allos, ini menunjukkan bahwa Roh Kudus, sekalipun adalah “penolong yang lain” dari pada Yesus, tetapi mempunyai sifat yang sama seperti Yesus.

Demikian juga jika kita lihat Kis. 5:3-4,9 sebagai bukti yang kuat membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Allah karena menyatakan bahwa mendustai Roh Kudus sama dengan mendustai Allah:
Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah. ... Kata Petrus: 'Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?'”. (TB, LAI)
Perhatikan Kis 5:3 di mana Petrus berkata bahwa Ananias “mendustai Roh Kudus”, maka ayat berikutnya Petrus berkata bahwa Ananias “mendustai Allah”. Artinya mendustai Roh Kudus sama dengan mendustai Allah. Lalu dalam Kis 5:9 Petrus berkata bahwa mereka 'mencobai Roh Tuhan'. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Allah karena tidak mungkin jika Roh Kudus tidak berpribadi dapat dicobai!

Eksistensi Roh Kudus Sebagai Pribadi

Di atas telah dijabarkan bahwa “sesuatu” dapat disebut memiliki eksistensi kepribadian seperti manusia jika memiliki 3 elemen yaitu kehendak, emosi dan intelektualitas. Ulasan berikut membuktikan bahwa Roh Kudus sungguh-sungguh bereksistensi seperti manusia karena memiliki ke-3 komponen tersebut.

1. Roh Kudus Memiliki Intelektualitas

Di dalam ayat-ayat berikut ini Roh Kudus dinyatakan memiliki intelektualitas, misalnya dalam 1 Kor 2:10 di mana Roh Kudus dinyatakan menyelidiki segala perkara, bahkan perkara-perkara yang ada dalam dari Allah.
Karena kepada kitalah Allah telah menyingkapkan itu melalui rohnya, karena roh menyelidiki segala perkara, bahkan perkara-perkara yang dalam dari Allah. (TDB)
Renungkan baik-baik ayat yang ditulis Paulus ini. Jika Roh Kudus hanyalah sekedar kuasa Allah, bagaimana mungkin Roh Kudus mampu menyelidiki segala sesuatu, bahkan sampai kepada perkara-perkara yang dalam dari Allah sendiri. Sesuatu hal yang mustahil jika Roh Kudus hanyalah sekedar kuasa Allah tetapi mampu menyelidiki Allah, bukan?
Demikian juga di Yoh. 14:26 dikatakan oleh Kristus sendiri bahwa Roh Kudus sebagai sang Penolong akan mengajar segala hal kepada kita. Kemampuan mengajar membuktikan bahwa Roh Kudus memiliki pengetahuan.
Tetapi penolong itu, roh kudus, yang akan diutus Bapak dengan namaku, penolong itu akan mengajarkan segala hal kepadamu dan mengingatkan kamu akan segala perkara yang telah kuberitahukan kepadamu. (TDB)
2. Roh Kudus Memiliki Kehendak

Hanya oknum yang bereksistensi seperti manusia memiliki kehendak. Listrik jelas tidak memiliki kehendak atau keinginan. Ayat-ayat berikut jelas membuktikan bahwa Roh Kudus memiliki kehendak yaitu memutuskan sesuatu.
Karena roh kudus dan kami sendiri telah berkenan untuk tidak menambahkan lebih banyak beban kepadamu, kecuali hal-hal yang perlu ini . . . (Kis. 15:28, TDB)
Jika Saudara membaca perikop Kisah 15 secara keseluruhan tentang masalah hukum sunat yang dipertentangkan oleh Paulus dengan jemaat Yerusalem maka hasil keputusan pada akhirnya diputuskan oleh Roh Kudus dan disampaikan oleh para rasul keputusan tersebut.

Demikian juga Kis 13:2-4 secara eksplisit menyuruh atau memerintahkan Barnabas dan Paulus. Mungkinkah listrik menyuruh orang, apalagi rasul Paulus? Jelas Paulus mau disuruh-suruh karena Roh Kudus adalah oknum berpribadi dan sekaligus Allah.
Sementara mereka melayani Yehuwa di hadapan umum dan berpuasa, roh kudus mengatakan, ”Dari antara semua orang, sisihkan Barnabas dan Saul bagiku demi pekerjaan yang untuknya aku telah memanggil mereka.” 3 Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan meletakkan tangan ke atas kedua orang itu dan membiarkan keduanya pergi. 4 Maka orang-orang yang disuruh oleh roh kudus ini berangkat ke Seleukia, dan dari sana mereka berlayar ke Siprus. (kis 13:2–4, TDB)
3. Roh Kudus Memiliki Emosi

Suatu hal yang mustahil jika tenaga listrik dapat menunjukkan emosi seperti layaknya manusia. Di dalam ayat-ayat berikut membuktikan bahwa Roh Kudus memiliki emosi seperti layaknya manusia yaitu berduka dan menghibur.
Juga, jangan mendukakan roh kudus Allah, yang dengannya kamu telah dimeteraikan untuk hari kelepasan melalui tebusan. (Efesus 4:30, TDB)

Lalu, sesungguhnya, sidang jemaat di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria memasuki masa kedamaian dan dibangun; dan seraya berjalan dalam takut akan Yehuwa dan dalam penghiburan roh kudus, jemaat itu terus berlipat ganda. (Kis. 9:31, TDB)
Dusta Menara Pengawal

Sebelum saya mengakhiri artikel kali ini. Saya ingin mengarahkan pembaca kepada dusta Menara Pengawal tentang Roh Kudus. Saya tidak terlalu peduli jika suatu organisasi atau seseorang memiliki pengajaran yang menentang ajaran Trinitas. Keyakinan seseorang tidak dapat dipaksakan. Tetapi satu hal yang menurut saya melanggar etika kekudusan Allah yaitu berdusta kepada pembaca atau pengikutnya seolah-olah Roh Kudus bukanlah suatu pribadi dengan cara mengutip penganut Tritunggal yang notabene percaya Roh Kudus sebagai Allah tetapi dikutip sedemikian rupa seolah-olah Trinitarian tidak meyakini Roh Kudus sebagai seorang pribadi.

Perilaku menjijikkan diperlihatkan oleh organisasi Saksi Yehuwa yang mengklaim dirinya sebagai wakil Allah di bumi tetapi tingkah lakunya sebaliknya yaitu wakil Iblis, bapa pendusta, di bumi. Perhatikan kutipan berikut:

New Catholic Encyclopedia: “P[erjanjian] L[ama] dengan jelas tidak menggambarkan roh Allah sebagai suatu pribadi . . . Roh Allah hanyalah kuasa dari Allah. Jika ini kadang-kadang dinyatakan sebagai sesuatu yang berbeda dari Allah, ini adalah karena nafas Yahweh bertindak di luar diri-Nya.” Buku itu juga mengatakan: “Mayoritas naskah-naskah P[erjanjian] B[aru] menyatakan roh Allah sebagai sesuatu, bukan seseorang; ini terutama terlihat dalam kesejajaran antara roh dan kuasa Allah.” (Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal, hlm. 22)
Jika kita perhatikan kutipan tersebut maka siapapun juga dapat menarik kesimpulan yang keliru yaitu bahwa penganut Katolik ternyata tidak mempercayai Roh Kudus sebagai pribadi. Apakah demikian? Tidak. Ini adalah sebuah dusta besar Menara Pengawal yang membuktikan sebaliknya yaitu Roh Kudus  benar-benar bereksistensi sebagai pribadi karena jika memang Roh Kudus bukanlah seorang pribadi maka organisasi Saksi Yehuwa tidak perlu menggunakan dusta untuk membenarkan ajarannya untuk menipu pengikutnya, bukan?

Sekarang kita perhatikan kutipan di bawah secara lengkap yang membuktikan sebaliknya seperti yang saya jelaskan di atas yaitu Roh Kudus merupakan seorang pribadi. Perhatikan kalimat yang berwarna merah adalah kutipan yang berkoresponden dengan kutipan Menara Pengawal di atas. Dan kalimat yang biru merupakan kalimat-kalimat yang sengaja tidak dikutip oleh Menara Pengawal.
Artikel ini mempresentasikan Roh Allah seperti yang disajikan dalam PL dan Yudaisme, dan dalam PB. Pertimbangan diberikan pada setiap bagian dari Roh Allah sebagai suatu kuasa dan sebagai seorang Pribadi. . . . Dalam bagian PL lainnya, Roh Allah dipahami lebih sebagai seorang guru atau penuntun — sumber segala intelektulitas dan karunia rohani daripada sebagai kuasa berkhasiat. [Maz 142 (143) .10; Neh 9.20, Dn 5,15]. Roh Allah Tidak Dipresentasikan sebagai seorang Pribadi. P[erjanjian] L[ama] dengan jelas tidak menggambarkan roh Allah sebagai suatu pribadi, baik dalam arti ketat filosofis, maupun dalam arti Semitik. Roh Allah hanyalah kuasa dari Allah. Jika ini kadang-kadang dinyatakan sebagai sesuatu yang berbeda dari Allah, ini adalah karena nafas Yahweh bertindak di luar diri-Nya (Yes 48:16; 63:11; 32:15). Sangat jarang para penulis PL menghubungkan kegiatan intelektual dan emosi Roh Allah (Yes. 63.10, Wis 1,3-7). . . . Sebagai hasil dari ajaran Kristus, kepribadian pasti dari Pribadi Ketiga dari Trinitas jelas. Namun, dalam banyak kasus, kalimat "Roh Allah" dalam pengertian PL mencerminkan "kuasa Allah." Roh Allah Sebagai Pribadi. Meskipun konsep PB Roh Allah sebagian besar merupakan kelanjutan dari mereka dalam PL, dalam PB ada wahyu bertahap [progresif] bahwa Roh Allah adalah Pribadi. Mayoritas naskah-naskah P[erjanjian] B[aru] menyatakan roh Allah sebagai sesuatu, bukan seseorang; ini terutama terlihat dalam kesejajaran antara roh dan kuasa Allah. . . . Satu-satunya bagian dalam Injil Sinoptik yang jelas berbicara tentang pribadi Roh Kudus adalah formula Tritunggal di Mt 28,19. . . . Pernyataan dalam Kisah Para Rasul 15,28, tampaknya "Roh Kudus dan kami telah memutuskan," sendiri menyiratkan kepribadian penuh. . . . Namun, formula Tritunggal digunakan oleh santo Paulus (misalnya, 2 Kor 13.13), menunjukkan kepribadian yang nyata. ... Jadi jelas santo Yohanes melihat Roh sebagai pribadi yang menggantikan tempat Kristus dalam Gereja, sehingga ia menggunakan kata ganti maskulin (Yunani) mengacu pada Roh meskipun [roh] adalah bergener gender (16,8, 13-16) . Akibatnya, jelas bahwa Santo Yohanes memikirkan Roh Kudus sebagai Pribadi yang berbeda dari Bapa dan Anak, dan yang, dimuliakan bersama dengan Putra dan Bapa, hadir dan aktif dalam iman[1]

This article treats the spirit of God as it is presented in the OT and Judaism, and in the NT. Consideration is given in each of these sections to the spirit of God as a power and as a Person. . . . In other OT passages, God's spirit is conceived more as a teacher or guide-the source of all intellectual and spiritual gifts-than as an efficacious force [Ps 142(143).10; Neh 9.20; Dn 5.15]. God's Spirit Not Presented as a Person. The OT clearly does not envisage God's spirit as a person, neither in the strictly philosophical sense, nor in the Semitic sense. God's spirit is simply God's power. If it is sometimes represented as being distinct from God, it is because the breath of Yahweh acts exteriorly (Is 48.16; 63.11; 32.15). Very rarely do the OT writers attribute to God's spirit emotions or intellectual activity (Is 63.10; Wis 1.3-7). . . . As a result of the teaching of Christ, the definite personality of the Third Person of the Trinity is clear. However, in most cases, the phrase "spirit of God" reflects the OT notion of "the power of God." . . . The Spirit of God as a Person. Although the NT concepts of the spirit of God are largely a continuation of those of the OT, in the NT there is a gradual revelation that the Spirit of God's a Person. In the Synoptic Gospels. The majority of NT texts reveal God's spirit as something, not someone; this is especially seen in the parallelism between the spirit and the power of God. . . . The only passage in the Synoptic Gospels that clearly speaks of the person of the Holy Spirit is the Trinitarian formula in Mt 28.19. . . . The statement in Acts 15.28, "the Holy Spirit and we have decided," alone seems to imply full personality. . . . However, the Trinitarian formulas employed by St. Paul (e.g., 2 Cor 13.13), indicate a real personality. . . . So clearly does St. John see in the Spirit a person who takes Christ's place in the Church, that he uses a masculine pronoun (Greek) in reference to the Spirit even though [spirit] is neuter in gender ( 16.8, 13-16). Consequently, it is evident that St. John thought of the Holy Spirit as a Person, who is distinct from the Father and the Son, and who, with the glorified Son and the Father, is present and active in the faithful (14.16; 15.26; 16.7). (New Catholic Encyclopedia, 1965, Spirit of God, Vol 13, p574-576)
Sangat jelas bahwa New Catholic Encyclopedia tersebut menyatakan bahwa Roh Kudus merupakan oknum berpribadi. Menara Pengawal dengan sengaja mengutip secara tidak lengkap encyclopedia itu untuk menipu pembacanya. Tentunya Saudara merasa heran, bagaimana sebuah organisasi yang mengklaim dirinya mewakili Allah yang kudus melakukan suatu dusta untuk membenarkan ajarannya? Jawabannya hanya satu, yaitu organisasi Saksi Yehuwa bukanlah sebuah organisasi seperti apa yang dinyatakannya. Organisasi ini hanyalah sebuah organisasi kultus yang berkedok agama Kristen. Perhatikan kata Steve Hassan, pakar kultus, tentang ciri-ciri grup kultus yang destruktif, yaitu menggunakan penipuan untuk mencapai tujuannya:
Sebuah grup tidak dapat dipertimbangkan sebuah “kultus” hanya karena keyakinannya yang tidak ortodoks atau praktek-prakteknya. Sebaliknya, destruktif kultus dicirikan dengan penggunaan penipuan. . .

A group should not be considered a “cult” merely because of its unorthodox beliefs or practices. Instead, destructive cults are distinguished by their use of deception . . .
[2]
Bagaimana pendapat Saudara?

Artikel berikutnya akan menjelaskan kesatuan hakekat Roh Kudus dengan Allah Bapa.

Artikel Terkait:
1. Mengertikah Anda Doktrin Tritunggal?
2. Apakah Tujuan Saksi Yehuwa Menginjil Dari Rumah Ke Rumah?
3. Ajaran Saksi Yehuwa: Bidat Atau Sejati?


Karena Kristus-Kristus palsu dan nabi-nabi palsu akan tampil dan akan memberikan tanda-tanda yang hebat dan keajaiban-keajaiban untuk menyesatkan, jika mungkin, bahkan orang-orang pilihan. (Mat. 24:24, TDB)

[1] http://www.bible.ca/trinity/trinity-Catholic.htm
[2] http://www.freedomofmind.com/Info/infoDet.php?id=407


EmoticonEmoticon