Thursday, July 11, 2013

Oleh : Anju Nofarof H / SI5

Mei, 1956 Bung Karno disela-sela kunjungannya ke Amerika Serikat. Dalam pidatonya di depan anggota Kongres AS, Bung Karno menyampaikan pancasila "Pancasila is, Panca Means Five, Sila is Principles," kata Bung Karno. Saat itu juga, rombongan secara spontan bangga dengan pidato presiden pertama RI itu. Tepuk tangan keras "Hebat yah, bangsa ini di masa lalu," komentar salah seorang pengunjung. (kutipan dari media on-line Vivanews.com).

Pidato the founding father bangsa Indonesia itu dan tanggapan masyarakat international tentang pancasila sebagai lambang pemersatu yang mengikat dan menyatukan perbedaan yang ada, sebuah kemegahan pancasila Bhinekka Tunggal Ika. Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta filsafat hidup bangsa Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu nilai-nilai yang bersifat sistematis, fundamental dan menyeluruh (komprehensif). Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara Indonesia, mengandung makna bahwa dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kenegaraan, kemasyarakatan harus bardasarkan nilai-nilai keTuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan kerakyatan.

Tidak ada keraguan dalam hal ini, bagi yang meragukan penulis sarankan segera "bertobat". Pancasila itu tidak stagnan, tidak kaku, melainkan dinamis, berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dewasa ini. Akan tetapi, kedinamisan pancasila itu apakah memang harus mentolerin semua kebudayaan asing yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia ? Dalam konteks ini penulis membatasi tentang gemerlapan budaya musik K-Pop (Musik Korea) di Indonesia, bahkan duniapun terimbas olehnya. Dan selanjutnya, apakah eksistensi nilai-nilai pancasila sebagai karakter dan kepribadian bangsa Indonesia masih "SAKTI" untuk bersaing dengan kebudayan K-pop yang berkembang pesat di masyarakat Indonesia. ? Penulis akan menguraikan dan membahas pertanyaan yang muncul. Untuk masalah kedinamisan pancasila terhadap kebudayaan asing, dalam hal ini budaya musik K-pop.

Pancasila butuh filter (penyaring) mana yang baik untuk diterima dan mengisi kedinamisan pancasila itu sendiri, dan mana juga yang tidak baik untuk pancasila yang akan merusak nilai-nilai pancasila. Pertanyaannya, filter yang bagaimana dan siapa yang akan memfilter pengaruh budaya musik K-pop terhadap eksistensi pancasila. Penulis beranggapan, filternya tidak lain tidak bukan ya kita, masyarakat Indonesia sendiri yang akan memfilter budaya musik K-pop. Bagaimana caranya, kita tetap harus menjaga keutuhan dan mengaplikasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa, bernegara, serta bermasyarakat. Nilai-nilai pancasila bersumber dari bangsa Indonesia sehingga bangsa Indonesia sebagai kausa materialis.(dikutip dari Pendidikan Kewarganegaraan hal 45-49, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.

1. Nilai-nilai pancasila di dalamnya terkadung ketujuh nilai-nilai kerohanian yaitu nilai kebenaran, keadilan, kebaikan, kebijaksanaan, etis, estesis dan nilai religius, yang manifestasinya sesuai dengan budi nirani bangsa Indonesia karena bersumber pada kepribadian bangsa (lihat Darmodihardjo, 1996).

2. Nilai-nilai pancasila merupakan filsafat (pandangan hidup) bangsa Indonesia sehingga merupakan jati diri bangsa, yang diyakini sebagai sumber nilai atas kebenaran, kebaikan, keadilan dan kebijaksanaan dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

3. Nilai-nilai pancasila sebagai dasar filsafat Negara Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu sumber dari segala sumber hokum dalam Negara Indonesia. Sebagai sumber dari segala sumber hokum secara objektif merupakan pandangan hidup, kesadaran, cita-cita hukum, serta cita-cita moral yang luhur yang meliputi suasana kejiwaan, serta watak bangsa Indonesia. Nilai pancasila itu bagi bangsa Indonesia menjadi landasan, dasar serta motivasi atas segala perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam kehidupan kenegaraan.

Eksistensi nilai-nilai pancasila sangat dipengaruhi oleh bagaiamana pancasila itu benar-benar diakui (Deklaratif) dan dinyatakan (implikasi) sebagai sumber nilai di dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Nilai-nilai pancasila itu bersumber dari karakter dan kepribadian masyarakat Indonesia pada masa lampau, yang kemudian diakumulasikan dan menjadi konsesus (kesepakatan bersama) bangsa untuk dijadikan sebagai dasar, pandangan dan falsafah hidup bangsa Indonesia.

Mari kita belajar dari negara Jepang, yang masih tetap menjaga originalitas dan kemurnian budaya Jepang dari kebudayaan asing yang masuk kenegara mereka. Jepang, yang sama-sama kita ketahui ialah negara maju di Asia, ditengah perkembangan industrilisasi ekonomi dan modernisasi. Kebudayaan Jepang tetap masih dijaga dan dilestarikan hingga saat ini, yakni budaya minum teh, menghormati orang yang lebih tua, budaya malu, displin, berkerja keras, seni origami, serta seni busana kimono dll.

Penulis sangat menyayangkan kita terlalu fokus dalam memproteksi budaya barat, padahal kita melupakan geliat budaya K-pop di Indonesia bahkan, dunia pun terimbas oleh K-pop. Penulis pikir, sudah waktunya untuk memfilter budaya-budaya asing ke Indonesia baik K-pop maupun Barat, tidak satu arah, melainkan segala arah. Itulah cara untuk memfilter nilai-nilai pancasila dari budaya asing. Untuk eksistensi dan kesaktian nilai-nilai pancasila terhadap budaya K-pop di masyarakat Indonesia.

Mari kita lihat fenomena yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini, mulai dari anak-anak, remaja baik putra maupun putri, dewasa bahkan orangtuapun sangat menyukai musik Korea. Lalu kenapa hampir semua lapisan masyarakat Indonesia relatif menyukai musik K-pop ? Apa sesunguhnya daya tarik musik K-pop?

Tika, teman saya dikampus sangat menyukai musik K-pop, alasannya, dia sangat suka style berpakaian mereka yang unik dan penuh warna, ditambah lagi wajah para personel boyband yang tampan dan imut-imut membuat saya makin tergila-gila sama musik K-pop, untuk musiknya yang ngebeat membuat musik Korea enak didengar, walaupun saya pribadi tidak mengerti apa maksud lagu yang saya dengar itu, karena lagunya berbahasa Korea." ungkap Tika.

Lain lagi dengan teman pria saya Habib namanya, Dia katakan " saya tidak suka musik Korea yang tidak jelas itu, lebay, alay, dan norak."apa lagi para personel boybandnya, lebih cocok mereka jadi wanita dibandingkan pria, membuat karakter pria yang wibawa itu hilang. Jauh lebih saya suka musik Rock Barat, dibandingkan musik K-pop ." lanjut Habib. " Kalau wanitanya saya sangat suka, heheheheh cantik dan manis."ungkapnya sambil tertawa. "Pancasila tetap dihati dan selamanya tetap di hati." Tegas Tika dan Habib, disinggung tentang nilai-nilai pancasila di dalam kehidupan mereka, terpengaruh tidak dengan hobi mereka suka terhadap musik asing.

Fenomena budaya musik K-pop relatif telah mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, terlepas banyak atau tidaknya. Terutama akhir-akhir ini fenomena K-pop makin tambah geliat dengan muculnya Gangnam Stlye menjadi trendcenter dan trendingtopic di hampir seluruh bagian dunia, tidak terlepas Indonesia. Berjuta orang didunia telah mem viewer (menonton) video Gangnam Style disitus Youtube. Bahkan di Indonesia, sekelompok orang telah membuat video Gangnam Style versi mereka sendiri. Indikasi yang kuat bahwa budaya musik K-pop, mau tidak mau telah mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia. Dan mudah-mudahan hal ini, tidak sampai merusak nilai-nilai pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa, bernegara, serta bermasyarakat seperti yang diungkapkan Tika dan habib, bahwa pancasila tetap dihati.

Sebuah ungkapan yang menggelitik sekaligus kritik terhadap pemuda-pemudi Indonesia tentang eksistensi kita terhadap kemajuan bangsa yang tentunya masih ada korelasi terhadap geliat budaya musik K-pop di Indonesia. seperti ini " kalau dahulu the founding father bangsa Indonesia, Ir. Soekarno mengatakan " Berikan aku sepuluh pemuda yang revolusioner maka aku akan mengubah dunia". Jika, sekarang "Berikan aku tujuh pemuda yang alay maka, aku akan membuat boyband." sebuah ungkapan yang belakangan ini kerap kita dengar tentang eksistensi pemuda yang terpengaruh dengan budaya K-pop. Biarlah itu hanya ungkapan untuk menyinggung sekaligus merngembalikan nilai-nilai pancasila pada seharusnya dan senyatanya, sebagai cambuk bagi kita untuk eksistensi pemuda-pemudi Indonesia kedepannya, ditengah arus globalisasi dan modernisasi.


Daftar Pustaka
(dikutip dari Pendidikan Kewarganegaraan hal 45-49, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.
Poedjawijatna. 1997. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.


EmoticonEmoticon