Saturday, August 31, 2013

Natur Allah: Maha Kuasa
SALAH SATU AJARAN Saksi Yehuwa yang berbeda dengan doktrin Kristen pada umumnya adalah tentang kemahahadiran Allah (omni presence of God). Organisasi Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa Allah memiliki suatu tempat tinggal yaitu surga oleh sebab itu Ia tidak berada di segala tempat setiap saat. Klik artikel Apakah Allah Mahahadir? untuk detailnya.

Seorang Saksi Yehuwa bernama Ivan Robert berkomentar menarik di Artikel Ajaran Alkitab: Allah Mahahadir untuk membantah konsep kemahahadiran Allah berikut ini:
Ide "Allah maha hadir" yaitu hadir dimana saja pada waktu yang sama "present in all places at the same time" terkait kemaha kuasaannya, iya kan?

Nah, masalahnya adalah, tolong dijawab pertanyaan saya ini:

Apakah Allah dapat memutuskan untuk tidak hadir disuatu tempat?

Kalau anda jawab ya, maka benar argumentasi MP bahwa Allah dapat tidak "maha hadir".

Kalau jawab tidak, maka dengan demikian Allah tidak mahakuasa dong, sebab bagaimana allah disebut mahakuasa/mahahadir tetapi tidak mampu melakukannya?

Tolong dijawab sehingga pembaca bisa melihat maksud dari SSY sebenarnya apa soal "maha hadir" atau "mahakuasa" dari Allah.

Pemahaman SSY soal kemahakuasaan Allah beda dengan mainstream kebanyakan teis. (di sini)
Membaca sepintas pertanyaan ini mengandung suatu dilema (false dilema “either/or”) yang serba salah. Jika dijawab “ya”, maka hal itu berarti ada sesuatu hal yang tidak dapat Allah kerjakan, yaitu Allah dapat “tidak maha hadir”. Sebaliknya, jika dijawab “tidak”, berarti Allah tidak maha kuasa karena ada hal yang Allah tidak dapat kerjakan. Sekilas kesimpulannya adalah apa pun jawaban yang diberikan, baik “ya” ataupun “tidak”, tetap memposisikan Allah sebagai Pribadi yang tidak Mahakuasa sehingga doktrin Kristen keliru sedangkan ajaran organisasi Saksi Yehuwa benar.

Sebenarnya dilema itu muncul karena dimulai dari sebuah asumsi yang salah, yaitu kemahakuasaan Allah berarti Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya karena Ia maha kuasa. Padahal Alkitab dengan jelas dan tegas mengatakan bahwa meskipun Allah maha kuasa tetapi ada hal-hal yang tidak dapat Allah lakukan, misalnya Allah tidak dapat berdusta (Bilangan 23:19, Ibrani 6:18), Allah tidak dapat berbuat dosa, Allah juga tidak dapat menciptakan sesuatu yang setara dan sehakikat dengan diri-Nya, serta Allah tidak dapat berhenti menjadi Allah (Mazmur 90:1-2). Jadi meskipun Allah maha kuasa tetapi kemahakuasaan-Nya itu dibatasi oleh natur-Nya sendiri. Dengan kata lain, meskipun Allah maha kuasa dan dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi bukanlah berarti Allah dapat melakukan segala sesuatu semau-mau-Nya sendiri sehingga bertentangan dengan natur-Nya sendiri. Jika Allah melakukan segala sesuatu semau-mau-Nya sendiri karena kemahakuasaan-Nya maka kita telah mempertentangkan natur kemahakuasaan-Nya dengan natur-Nya yang lain. Jadi masalahnya bukan Allah mampu [memutuskan] atau tidak mampu [memutuskan] melakukan sesuatu (pastinya mampu) tetapi apapun juga keputusan atau tindakan-Nya itu pasti tidak bertabrakkan atau berkontradiksi dengan natur atau sifat-sifat Allah yang lainnya. 

Untuk menjelaskan maksud saya, saya berikan suatu contoh tentang 2 natur Allah yang dijelaskan Alkitab yaitu mengatakan Allah kudus (Yesaya 6:3) dan Allah tidak dapat berdusta. Bahkan Amsal 6:16-19 berkata bahwa lidah dusta merupakan salah satu 7 kekejian bagi hati-Nya. Tetapi ketika 2 natur itu disandingkan dengan kemahakuasaan Allah; apakah karena Allah maha kuasa maka Ia dapat berdusta? Jika di jawab “ya” maka jelas Allah tidaklah kudus dan pendusta sehingga bertentangan dengan pernyataan Alkitab sedangkan dijawab “tidak” berarti Allah tidak maha kuasa karena melakukan hal yang sepele saja yaitu “bohong” tidak mampu. Bagaimana menyelesaikan hal ini?

Jawaban yang sesuai dengan Alkitab adalah “tidak”, Allah tidak dapat berdusta (Bil 23:19; Ibr 6:13-18), dan Ia membenci ”lidah dusta”. (Ams 6:16-19). Alasannya adalah jika Allah berdusta, berarti Dia telah melanggar kekudusan-Nya sendiri dan pernyataan Alkitab yaitu Allah kudus dan tidak dapat berdusta. Jika Allah berdusta berarti Allah telah menghancurkan kemahakuasaan-Nya sendiri secara tidak langsung dengan melawan natur-Nya sendiri. Hal ini tidak mungkin. Tidak ada kontradiksi atau pertentangan dalam diri Allah. Meskipun Allah maha kuasa tetapi Ia tidak akan menggunakan kemahakuasaan-Nya untuk berdusta.

Namun demikian, seorang Saksi Yehuwa, yang bernama Ivan Robert mencoba berargumen di luar ajaran Saksi Yehuwa demi menjawab argumen saya. Menurut Sdr. Ivan, Allah dapat berdusta jika Ia memilih melakukannya dengan memberikan contoh 2 Tawarik 18:18-22 (di sini):
Mari kita kupas contoh alkitab tentang roh dusta dari Allah (tidak berasal dari iblis). Mari kita kaji bersama:

2 Tawarik 18:18-22 LAI :

Kata Mikha: “Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya. 19DanTUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab, raja Israel, untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu. 20Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan apa?21Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian!22Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut nabi-nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.”

Secara explicit terlihat bahwa Allah “menaruh roh dusta” kedalam mulut nabi-nabinya (Aslinya mereka adalah nabi Allah sejati yang memberontak, baca dari ayat-ayat sebelumnya). Nah frase “menaruh roh dusta” apakah dapat diartikan bahwa Allah telah mendustai nabi-nabi yang Ia tidak perkenan (karena memberontak) sehingga mereka mendapatkan bisikan (memang dari roh Allah yg benar) tetapi roh itu berkata dusta bahwa Ahab tidak akan mati/tewas di Ramot-Gilead padahal faktanya Ahab bakalan mati/tewas disana?

Singkatnya seperti begini: Roh Allah datang kepada nabinya dan mengatakan “Ahab tidak akan mati, dia akan menang pertempuran besama Yehosyafat melawan pasukan Siria”, Nabi Allah menyampaikan itu kepada Raja Ahab sehingga raja percaya. Namun Faktanya, Ahab tewas!

Jadi roh yang datang dari Allah adalah memang Roh Dusta, dan dengan demikian Allah mampu memilih melakukannya.
Benarkah 2 Taw. 18:18-22 membuktikan Allah mampu memilih melakukan dusta seperti yang dikatakan Sdr. Ivan? Jawabannya tidak! 2 Taw 18:18-22 sama sekali tidak membuktikan bahwa roh yang datang kepada para nabi itu adalah Roh Allah melainkan sebenarnya adalah suatu roh yang tampil dan berbeda dengan Tuhan. Ayat 20 begitu jelas berkata: “Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya.” Jadi roh itu yang “keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya

Bagaimana dengan ayat 22 yaitu “TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut nabi-nabimu ini”. Apakah “frase ‘menaruh roh dusta’ dapat diartikan bahwa Allah telah mendustai nabi-nabi yang Ia tidak perkenan (karena memberontak) sehingga mereka mendapatkan bisikan (memang dari roh Allah yg benar) tetapi roh itu berkata dusta bahwa Ahab tidak akan mati/tewas di Ramot-Gilead padahal faktanya Ahab bakalan mati/tewas disana?

Jawabannya juga tidak. Frase “TUHAN telah menaruh roh dusta” lebih tepat diartikan Allah mengizinkan suatu pengaruh yang menyesatkan yaitu suatu roh dusta bekerja dalam diri orang-orang yang lebih menyukai kepalsuan sehingga mereka mempercayai dusta itu daripada kebenaran (2 Tes. 2:9-12). Kita lihat tafsiran organisasi Saksi Yehuwa mengenai hal ini:
Allah Yehuwa membiarkan ”suatu pengaruh yang menyesatkan” bekerja dalam diri orang-orang yang lebih menyukai kepalsuan ”sehingga mereka mempercayai dusta itu” ketimbang kabar baik tentang Yesus Kristus. (2Tes 2:9-12) Prinsip ini terlihat pada apa yang telah terjadi beberapa abad sebelumnya dalam kasus Raja Ahab dari Israel. Para nabi yang berdusta meyakinkan Ahab bahwa ia akan berhasil dalam peperangan melawan Ramot-gilead, sedangkan Mikaya, nabi Yehuwa, menubuatkan malapetaka. Sebagaimana disingkapkan dalam penglihatan kepada Mikaya, Yehuwa membiarkan suatu makhluk roh menjadi ”roh penipu” dalam mulut para nabi Ahab. Ini berarti bahwa makhluk roh tersebut menjalankan kuasanya atas mereka sehingga mereka tidak berbicara kebenaran tetapi apa yang mereka sendiri ingin katakan dan apa yang Ahab ingin dengar dari mereka. Meskipun telah diperingatkan sebelumnya, Ahab lebih suka dibodohi oleh dusta-dusta mereka dan membayarnya dengan kehidupannya.—1Raj 22:1-38; (Pemahaman, hlm. 617)
Dari kutipan tersebut sangat jelas posisi ajaran organisasi Menara Pengawal dan ini bertentangan dengan argumentasi Sdr. Ivan. Dan sebenarnya Sdr Ivan tanpa disadarinya telah menghujat karakter Allah Yehuwa yang kudus dan sempurna dalam upaya memenangkan sebuah argumentasi. Bahkan ajaran organisasinya sendiri dihianatinya. Suatu hal yang tipikal dari seorang Saksi Yehuwa; menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sebuah tujuan.

Sekarang kita kembali ke topik utama di atas yaitu apakah Allah dapat memilih untuk “tidak hadir”? Jawabannya sama dengan Allah tidak dapat berdusta yaitu Allah tidak dapat memilih untuk tidak hadir. Jika Allah memilih untuk tidak hadir maka bertentangan dengan pernyataan Alkitab yaitu Allah maha hadir dalam Kitab Terjemahan Dunia Baru berikut ini:
”Apakah aku hanya Allah yang dekat,” demikian ucapan Yehuwa, ”dan bukan Allah yang jauh?” ”Atau dapatkah orang disembunyikan di tempat-tempat persembunyian dan aku tidak melihat dia?” demikian ucapan Yehuwa. ”Bukankah aku yang mengisi langit dan bumi?” demikian ucapan Yehuwa. (Yer. 23:23-24)

Jika aku naik ke langit, engkau ada di sana; Dan jika aku menghamparkan pembaringanku di Syeol, lihat! di sana pun engkau ada. (Maz. 139:8)

Mata Yehuwa ada di segala tempat, terus memperhatikan orang jahat dan orang baik. (Amsal 15:3)

Silahkan klik Ajaran Alkitab: Allah Mahahadir untuk bahasan berdasarkan Alkitab.
Lalu timbul pertanyaan: “Bukankah berarti  Allah tidak maha kuasa karena dibatasi oleh natur-Nya yaitu maha hadir?” Ya! Seorang teolog, Charles C. Ryrie* mengatakan bahwa kemahakuasaan Allah memiliki keterbatasan yaitu pembatasan yang wajar. Pembatasan yang wajar termasuk hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah karena hal-hal itu bertentangan dengan sifat-Nya. Misalnya meskipun Allah maha kuasa tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan Allah melainkan mampu  dilakukan oleh Iblis. Misalnya, Iblis dapat berdusta, tetapi Allah tidak; Iblis dapat menipu manusia, tetapi Allah tidak dapat melakukannya; Dan Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri (2 Tim. 2:13). Sproul menyatakan bahwa “Allah tidak dapat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan natur-Nya bertujuan untuk menegaskan bahwa Allah tidak dapat sekaligus sebagai Allah dan bukan Allah pada waktu yang sama**.

Ketika Allah tidak dapat memilih untuk tidak hadir bukanlah berarti Allah tidak maha kuasa. Saya beri suatu ilustrasi sederhana misalnya saya menikahi seorang istri dan baru menikah beberapa bulan karena suatu hal terjadi kecelakaan sehingga istri lumpuh total dan tidak mampu memberikan keturunan. Apakah karena masalah ini kemudian saya menceraikan istri saya? Tentu tidak. Mengapa? Apakah karena saya tidak mampu menceraikannya? Jelas mampu, tetapi saya tidak akan menceraikannya karena bertentangan dengan janji pernikahan yaitu susah dan senang hidup bersama dan lebih-lebih bertentangan dengan Alkitab tentang hukum perceraian. Nah, demikian juga Allah. Allah tidak bisa tidak hadir bukan karena tidak maha kuasa tetapi karena natur-Nya adalah maha hadir berdasarkan pernyataan Alkitab. 

Namun demikian, Sdr Ivan juga memiliki pendapat pribadi dengan mengatakan bahwa Allah tidak maha hadir karena berdasarkan 2 Taw: 18:18 di atas nabi Mikha mendapatkan penglihatan: “Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya”. Jadi menurut Sdr Ivan karena Allah terlihat sedang duduk di atas takhta-Nya yaitu surga berarti Allah saat itu ada di surga, tidak di bumi; tidak ada di mana-mana:
jelas dari kisah raja ahab diatas menunjukan bahwa Allah memang berada disorga (penglihatan nabi mikhaya) dan dia tidak sedang berada di Bumi (di sini)
Apakah nabi Mikha benar-benar melihat wujud asli Allah? Tidak. Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Allah adalah Roh” dan “tidak seorang pun pernah melihat Allah” (Yoh. 4:24; 1:18). Apa yang dilihat nabi Mikha hanyalah pernyataan atau penampakan diri Allah, bukan wujud asli-Nya. Sama seperi Tuhan menampakkan diri-Nya kepada Musa di dalam api yang keluar dari semak duri (Kel. 3:2). Apakah berarti nyala api dari semak duri adalah Allah? Tentu, tidak. Demikian juga apa yang dilihat oleh nabi Mikha bukanlah wujud asli Allah melainkan suatu pernyataan Allah. Nabi Mikha melihat TUHAN sedang duduk di sebuah takhta melambangkan bahwa Ia memiliki wewenang dan berdaulat sebagai Raja.

Kita lihat ajaran organisasi Saksi Yehuwa tentang arti kata “takhta”
Mengingat bahwa bahkan ”langit segala langit” tak dapat memuat pribadi Yehuwa, Ia tidak perlu duduk di atas sebuah takhta atau kursi harfiah. (1Raj 8:27) Namun, Ia memang menjadikan takhta sebagai lambang wewenang dan kedaulatan kerajaan-Nya. Beberapa hamba Allah mendapat hak istimewa untuk menyaksikan penglihatan tentang takhta-Nya. (1Raj 22:19; Yes 6:1; Yeh 1:26-28; Dan 7:9; Pny 4:1-3) (Pemahaman, hlm. 940)
Ya, argumen Sdr Ivan berdasarkan 2 Taw. 18:18 (ayat paralelnya 1Raj 22:19) bahwa Allah terlihat berada di surga sehingga tidak berada di tempat lain tidaklah mendapatkan dukungan dari ajaran organisasi Saksi Yehuwa sendiri. Apa yang dilihat oleh nabi Mikha hanyalah sebuah penglihatan dari penampakan Allah yang memiliki wewenang dan berdaulat sebagai Raja (duduk di atas takhta-Nya), tidak dapat dipahami secara hurufiah. Allah terlalu dahsyat dan besar jika hanya berada di satu lokasi yaitu surga karena ”langit segala langit” tak dapat memuat pribadi Allah Yehuwa (1 Raj. 8:27). Argumen Sdr. Ivan merupakan argumen dari seseorang yang sedang mencari pembenaran diri dengan mengabaikan pelajaran-pelajaran yang diperolehnya dari Menara Pengawal.

Kesimpulan

Allah mahakuasa berarti Allah dapat melakukan “apa saja” yang dikehendaki-Nya asalkan tidak bertentangan dengan natur diri-Nya yang lain. Ungkapan “apa saja” dalam konteks kalimat itu, tidak berarti Allah dapat melakukan segala sesuatu semau-maunya tanpa batasan, bahkan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan diri-Nya. Tidak ada kontradiksi atau pertentangan dalam diri Allah. Kemahakuasaan Allah dibatasi oleh natur-Nya. Kemahakuasaan Allah selalu berjalan paralel atau selaras dengan natur-Nya. Pada saat Allah melakukan sesuatu yang sesuai dengan natur-Nya, maka tidak ada kuasa atau kekuatan apa pun yang dapat menggagalkan-Nya. Kehendak-Nya itu pasti terlaksana. Inilah pemahaman yang sebenarnya tentang kemahakuasaan Allah.

Bagaimana pendapat Saudara?

Artikel Terkait:
1. MENGENALI GURU DAN NABI PALSU: BUAHNYA (Mat. 7:15-16)
2. Nabi Palsu Berseru: Kiamat! Kiamat!!
3. Fakta Saksi Yehuwa Suatu Kultus
4. Ajaran Saksi Yehuwa: Bidat Atau Sejati?


Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.—Amsal 14:12.

*   Teologi Dasar 1, hlm. 53
** Sifat Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001, hal. 100


EmoticonEmoticon