Thursday, September 12, 2013


            SYAFITRI ARIYANI/B/SR
1.      Usaha-usaha Dalam Merebut Kemerdekaan
       Pada saat itu, Mahmud Marzuki dipanggil dari Payakumbuh untuk menjadi anggota Su Sangi Kai ( sejenis perlemen ) tingkat provinsi dari wakil masyarakat Kampar, bahkan jepang pada mulanya tidak meragukan terhadap Mahmud Marzuki.
      Sebagai anggota Su Sangi Kai, tidakalah menghalangi Mahmud Marzuki untuk terus memberikan dakwah kepada rakyat agar percaya akan kemampuan diri sendiri. Penyampaian jiwa nasional inidengan halus dan bijaksana. Kecendrungan Mahmud Marzuki untuk menggerakkan semangat nasional adalah karena sikap jepang yang tidak lagi seperti semula, kekerasan mulai timbul, berpolitik tidak dibenarkan, dan sebagian besar hasil pertanian harus diserahkan kepada pemerintahan pendudukan jepang. Melihat kenyataan ini rakyat sudah jerah dengan perasan anti penjajah.
      Mahmud Marzuki memiliki pikiran dan pandangan yang tajam. Penyampain dakwah dan pengajian tidak sebagai layaknya ahlipolitik. Kecakapan dan keahliannya itu barangkali karena charisma yang tinggi yang dimiliki akibat pengaruh pendidikan yang diperdapatnya. Penilaian masyarakat terhadap Mahmud Marzuki sungguh seorang besar.
      Pada zaman jepang Hamka di undang ke Air Tiris untuk menghadiri suatu perayaan Muhammadiah. Saat itu Hamka mendengar uraian dakwah Mahmud Marzuki dengan penuh perhatian dan kagum akan isi pidato itu. Kepintarannya dalam berpidato terletak pada uraian-uraian yang selalu diuji dan diselingi dengan ayat- ayat Al-Quran danhadis nabi. Spontan Hamka mengatakan bahwa Mahmud marzuki bukan manusia biasa, dia ini orang besar, bijaksana dan pintar.
      Digambarkan Hamka saat itu hanya ada dua orang tokoh dikenalnya dan yang paling pandai berdakwah yaitu Ibrahim Musa dan Mahmud Marzuki. Penilaian Hamka ini memang benar kenyataan. Kecintaan dan kesenangan rakyat mendengar pidato Mahmud Marzuki ditandai dengan berbondong-bondongnya orang untuk mendengarkan dakwah dan pengajiannya.
      Sifat pidatonya yang tegas berisi dengan ajaran islam. Setiap pidatonya selalu di ujidan di patri dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadis nabi.  Kelebihannya semata-mata karena pengetahuan yang dimilikinya dan adanya unsur kejeniusaanya. Ternyata kelebihan tersebut merupakan modal yang sangat berharga untuk menghimpun masyarakat. H. Muhammad Arifin menggunakan Mahmud Marzuki sebagai media untuk menarik rakyat berkumpul. Pada kesempatan itu H. Muhammad Amin dan kawan-kawaan menyampaikan konsepsi-konsepsi politik atau pandangan politik bangsa Indonesia.
      Pada zaman jepang saat itu tersiar berita di daerah Lima Koto Kampar para alim ulama akan di tangkap dan di tawan serta di adili. Alasannya karena alim ulama selalu mengahsut untuk menentang jepang. Berita itu mendorong para ulama dan pemuda begerak secara diam-diam. Mahmud Marzuki, H. Muhammad Amin , A. Malik Yahya serta beberapa tokoh lainnya bergerak secara diam-diam dalam satu kesatuan illegal yaitu Gerakan Rahasia yang di pimpin Mahmud Marzuki. Gerakan rahasia itu menyebarkan bibit nasional dandan anti penjajah. Agama adalah senjata yang ampuh untuk menghimpun mereka dan menggerakkan rakyat melawan penjajah jepang.
      Beberapa usaha yang dikerahkan secara beranting kepada masyarakat yaitu semangat anti jepang sebagai orang kafir. Kedua dengan memboikot usaha mengumpulkan sebagian hasil pangan yang diserahkan kepada jepang. Caranya sebagian hasil padi  diladang- ladang sebagai bekal bagi keluarganya dan perjuangan bangsa. Padi yang diberikan kepada jepang dicampur dengan gabah dan dan padi hampa. Ternyata usaha itu berjalan lancer.
      Masyarakat kompak dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan timbul akibat tingkah laku mereka. Namun usaha itu tercium juga oleh kaki tangan ajepang. Pada hakekanya rakyat telah bertekat dengan moto" dari pada hidup berkalang bangkai, lebih baik mati berkalang tanah".
2.      Perjuangan Dalam Mempertahankan Kemerdekaan
       Pada tanggal 5 september 1945, berita proklamasi tersiar di air tiris lewat tempelan fampl yang di tempelkan orang yang datang dari bukit tinggi. Diduga texs  itu ditempelkan oleh petugas dari Sumatra barat yang mulai menyebarkan teks tersebut setelah menerima berita resmi dari T.M Hasan dan Dr. M. Amin selaku anggota PPKI dari Jakarta. Keduanya datang kebukit tinggi membawa teks proklamasi dan instruksi pemerintah pusat untuk segera membentuk Komite Nasional Indonesia.
        Mahmud Marzuki, H. Muhammad Amin dan beberapa tokoh masyarakat mengadakan rapat disekolah Muhammadiah di Muara Jalai Air Tiris pada tanggal 8 September 1945. Mereka membawa berita proklamasi itu dan merencanakan kegiatan apa yang hendak dilakukan setelah mendengar berita proklamasi tersebut. Rapat  itu diperkirakan berkumpul sebanyak 150 orang. rapat tersebut dipimpin langsung oleh Mahmud Marzuki. Rapat tersebut tercium oleh jepang, karena itu kepala polisi jepang di bengkinang yang bernama Yamamato datang kemuara jalai dengan maksud membubarkan rapat tersebut. Namun hal itu dapat di halang oleh H. Muhammad Amin.
        Dalam rapat itu memutuskan antara lain:
1.      Diyakini telah diumumkan kemerdekaan Indonesia dan secepat mungkin menaikkan bendera merah putih dipusat pemerintahan di bengkinang.
2.      Menyambut lahirnya kemerdekaan tanah air Indonesia dengan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata'ala serta bertekad bulat menentang segala rintangan dan hambatan.
3.      Rela memberikan pengorbanan harta benda dan nyawa sekalipun untuk mempertahankan kemerdekaan
4.      Member intruksi kepada seluruh masyarakat supaya bersama-sama hadir pada upacara bendera di lapangan muka kantor demang bengkinang hari senin tanggal 11september 1945.
       Kepeutusan harus dijalankan karena perjuangna mereka adalah bagian dari hidup bangsa Indonesia, maka senin pagi mereka sudah hadir dilapangan upacara.  Setelah sampai waktu yang dinantikan para pemimpin dari seluruh negri sudah hadir . Mahmud Marzuki berpidato untuk meyakinkan masyarakat tentang adanya proklamsi kemerdekaan Indonesia. Dengan suara yang lantang dan keras yang di dengar kurang lebih 2.000 hadirin beliu mengajak agar seluruh rakyat terutama yang hadir untuk bertekad mempertahankan merah putih tetap ditiangnya. " Sekali merah putih berkibar ditiang tengah lapangan ini berarti itu untuk selamanya, Mari kita pertahankan meskipun kita korban karenanya" Seakan meneteskan air mata Mahmud Marzuki mengakhiri pidatonya.
      Pada tanggal 10 oktober 1945, terbentuklah Komite Nasional Indonesia Bengkinang dengan susunan sebagai berikut:
Ketua 1       : Mahmud Marzuki
Ketua  2      : Jamat Dt. Majolelo
Sekretaris 1 : Zakariah Datuk Putih
Sekretaris  2 : M. Nasir
Bendahara    : Batok
Anggota   : 1. Muhammad Amin, 2. Jakub Dt. Bandaro Mudo, 3. Abd . Rachman                       Palembang,  4. Dr. Setiarjo, 5. Rifai, 6. Naim
         Berakhirnya pemerintahan jepang, belanda datang ke Indonesia dengan tujuan untuk menggatikan jepang di Indonesia. Belanda juga datang ke bangkinang. Pada saat itu bendera merah putih berkibar di kantor kontroleut. Lewat mobil sekutu bendera belanda, mobil itu dihadang oleh pejuang kita memerintahkan agar bendera belanda digantikan dengan bendera sekutu. Mayor langly dari sekutu keluar dengan membentak dan menyebut siapa sebenarnya dia. bila dia bertindak dengan senjata lengkapnya semua pasukan kita musnah, kalau di bandingkan kekuatan persenjataan kita dengan belanda. Kenyataan tidak demikian terjadi. Bendera belanda dibuka dan diganti dengan bendera inggris.
        Mayor langly meminta kepada H.Muhammad Amin agar datang ke kamp. Belanda disalo bengkinang. Mayor Langly meminta  agar belanda yang ada di kamp. Salo jangna diganggu dan terus diamankan. Apa yang diharapkan mayor Langly diterima dengan syarat semua orang belanda yang ada di luar kamp. Termasuk yang ada di bangkinang di tarik kedalam kamp demi terjamin kemanan .
       Beberapa waktu sesudah persetujuan itu, semua orang belanda di kamp. Salo di bawa kepadang. Yang tinggal hanya tentara jepang. Dengan dengan demikian lasykar kita hanya berhadapan lagi dengan tentara jepang.
       Bentrokan pertama terjadi sesudah kemerdekaan, yang merupakan ekor dari peristiwa di danau bingkuang. Persoalan yang memancing bentrokan itu dimulai dari bentrokan tentara jepang terhadap penjual durian. Sikap ini menimbulkan rasa benci terhadap jepang. Sementara itu di rantau beringin tejadi pula pembunuhan terhadap 3 orang jepang. memblokade bengkinang yang diperkirakan tentara jepang berjumlah 1.600 orang. pada saat itu Komite Nasional Indonesia yang di pimpin oleh Mahmud Marzuki sedang mengadakan rapat. Rupanya tempat pertemuan tersebut telah dikepung oleh tentara jepang dan para pemimpin kemerdekaan ini langsung di tangkap oleh tentara jepang.  Diantaranya  Mahmud Marzuki, H. Muhammad Amin, dan Wedana Bahrum Syah, serta 13 orang lainnya.
        Para pemimpin rakyat yang di tangkap itu disiksa, dianiaya, dan dipukul. Selama ditahan berbagai siksaan yang mereka terima dari tentara jepang. Meskipun akahirnya mereka dilepaskan kembali. Selama mereka ditahan masyarakat benar- benar kehilangan pedoman dan pemimpin. Hal ini dapat dibuktikan dari sambutan masyarakat sesudah parapemimpin di pulangkan jepang. Rakyat menyambut dengan upacara adat makan bersama.
   
        Siksaan dan hukuma yang dikenakkan terhadap Mahmud Marzuki membuat beliau terus sakit-sakitan. Namun usaha untuk berdakwah terus dilaksanakannya, walaupun kesehatannya tidak mengijinkan lagi, sebab berdakwah merupakan panggilan panggilan hidupnya. Kiaranya sakit yang dideritanya menyebabkan kematian Mahmud Marzuki dan meninggal dunia tanggal 05 agustus 1946. Beliau dimakamkan dihalaman depan perkarangan sekolah Mu'alimin Muhammadiah desa kumantan- bengkinang. Beliu pergi sebelum meraskan kenikmatan kemerdekaan yang di perjuangkannya, tetapi beliau telah meninggalkan benih agama yang benar dan bersih dari bid'ah dan khufarat serta semangat persatuan perjuangan kemerdekaan Indonesia , kata H. Muhammad Amin. Untuk mengenang jasa-jasa beliau, gedung pemuda dan nama jalan di bengkinang diberi nama Mahmud Marzuki.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Umar, et.al. Peranan Mahmud Marzuki Dalam Perjuangan Kemerdekaan di Daerah Kampar- Riau, LPPM UNRI, Pekanbaru, 1982
Yusuf, Ahmad. Dkk. Sejarah Perjuangan Rakyat Riau, Badan Kesejahteraan Sosial Provinsi Riau, Pekanbaru. 2004.


EmoticonEmoticon