Thursday, September 19, 2013

 MAMAN KURNIAWAN / PIS
Negara Jepang adalah salah satu negara besar yang berada di Asia Timur. Jepang adalah sebuah negara kepulauan yang berada di Asia Timur dan wilayah tidak luas seperti negara Indonesia. Namun Jepang dapat membuktikan bahwa mereka adalah bangsa maju. Negara Jepang dapat mengalahkan negara-negara Asia lainnya, Jepang sudah maju dalam berbagai hal terutama dalam bidang teknologi. Hampir di seluruh dunia mengetahui sepak terjang negeri sakura ini.
Dalam perjalanannya, bangsa Jepang ternyata telah melewati aliran waktu sejarah yang panjang, hingga akhirnya terbentuklah karakter mereka seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini. Pada pokok bahasan ini kami berusaha membagi periodisasi Jepang dan membaginya menjadi tiga bagian yaitu masa klasik, masa feodal dan masa modern Jepang.
Negara Jepang adalah Negara kepulauan yang menyerupai bentuk garis melengkung yang terbentang dari timur laut ke barat di lautan bagian timur benua Asia. Luas wilayah kurang lebih 370.000 KM², kurang lebih 1/27 luas daratan Cina atau 1/5 luas wilayah Indonesia.
1.    Zaman Klasik Jepang
NO
ZAMAN
SISTEM POLITIK
SISTEM SOSIAL BUDAYA
1
Zaman Kofun (sekitar 250 Masehi-538 Masehi)
Pada zaman ini sudah terdapat negara-negara militer yang kuat dengan klan-klan berpengaruh sebagai penguasa. Salah satu di antaranya terdapat negara Yamato yang dominan, dan berpusat di Provinsi Yamato dan Provinsi Kawachi. Negara Yamato berlangsung dari abad ke-3 hingga abad ke-7, dan merupakan asal garis keturunan kekaisaran Jepang. Sistem kekaisaran juga mengambil model dari Cina. Hubungan yang erat antara Jepang dengan Tiga Kerajaan Korea dimulai pertengahan zaman Kofun, sekitar akhir abad ke-4.
Sesuai dengan keadaan alamnya, orang Yamato sudah pandai berlayar menggunakan perahu- perahu kecil, sehingga kemungkinan mereka telah mengenal perdagangan. Alat tukar(uang) mereka belum mengenal. Sistem keagamaan masih sangat sederhana. Mereka mempercayai roh- roh nenek moyang. Kemudian lahir agama Shinto yang merupakan asli agama Jepang.Nama zaman ini berasal dari tradisi orang zaman itu untuk membuat gundukan makam (tumulus) yang disebut kofun. Negara Yamato yang berkuasa atas klan-klan lain dan memperoleh lahan-lahan pertanian mempertahankan pengaruh yang kuat di Jepang bagian barat. Masyarakat dibagi menjadi strata berdasarkan profesi.
2
Zaman Asuka (538-710 Masehi )
Negara Jepang purba Yamato secara bertahap menjadi negara yang tersentralisasi. Negara Jepang purba sudah memiliki undang-undang seperti dinyatakan dalam Undang-Undang Taihō dan butir-butir Reformasi Taika. Konstitusi yang disusunnya dipengaruhi oleh pemikiran Konfusianisme tentang berbagai moral dan kebajikan yang diharapkan masyarakat dari pejabat pemerintah dan abdi kaisar.
Dimulai dengan Perintah Reformasi Taika tahun 645, Jepang semakin giat mengadopsi praktik-praktik budaya Cina, melakukan reorganisasi pemerintahan, serta menyusun undang-undang pidana (Ritsuryō) dengan mengikuti struktur administrasi Cina pada waktu itu. Istilah Nihon (日本?) juga mulai dipakai sebagai nama negara sejak zaman Asuka.
Masuknya agama Buddha di Jepang mengakibatkan orang tidak lagi membuat makam berbentuk kofun. Agama Buddha masuk ke Jepang sekitar tahun 538 melalui Baekje yang mendapat dukungan militer dari Jepang. Penyebaran agama Buddha di Jepang dilakukan oleh kalangan penguasa. Pangeran Shōtoku mendedikasikan dirinya dalam penyebaran Buddhisme dan kebudayaan Cina di Jepang. Ia berjasa menyusun Konstitusi 17 Pasal yang membawa perdamaian di Jepang.
3
Zaman Nara (710-794 Masehi)
Zaman Nara pada abad ke-8 ditandai oleh negara Jepang yang kuat. Pada tahun 710, Kaisar Gemmei mengeluarkan perintah kekaisaran yang memindahkan ibu kota ke Heijō-kyō yang sekarang bernama Nara. Heijō-kyō dibangun dengan mencontoh ibu kota Dinasti Tang di Chang'an (sekarang disebut Xi'an).
Sepanjang zaman Nara, perkembangan politik sangat terbatas. Anggota keluarga kekaisaran berebut kekuasaan dengan biksu dan bangsawan, termasuk dengan klan Fujiwara. Hubungan luar negeri berlangsung dengan Silla dan hubungan formal dengan Dinasti Tang. Pada 784, ibu kota dipindahkan ke Nagaoka-kyō untuk menjauhkan istana dari pengaruh para biksu, sebelum akhirnya dipindahkan ke Heian-kyō (Kyoto).
Sejak zaman Nara, kekuasaan politik tidak selalu berada di tangan kaisar, melainkan di tangan bangsawan istana, shogun, militer, dan sekarang di tangan perdana menteri.
         Zaman Nara merupakan puncak pertama dalam perkembangan budaya Jepang. Dari segi arsitektur, banyak bangunan atau kuil yang didirikan dengan meniru gaya bangunan Cina. Dalam kesusastraan dihasilkan Kojiki (cerita zaman kuno) dan Nihongi atau Nihonshoki (sejarah jepang). Kojiki selesai ditulis pada tahun 712 M dan dikumpulkan oleh Onoyasumaro. Nihongi selesai ditulis pada tahun 720 dan dikumpulkan oleh Toneri Shinno. Penulisan keduanya dilakukan dengan bantuan orang Cina dan Korea. Karena pada saat penyusunannya orang Jepang belum punya huruf sendiri dan belum pintar menulis. Para ahli sejarah menyatakan bahwa sebagian cerita/sejarah dalam Nihongi bukanlah sejarah yang sebenarnya, terutama sejarah sebelum tahun 400 M. Misalnya dalam Nihongi dikatakan bahwa pemerintahan kaisar Jinmu dimulai sejak tahun 660 SM – 581 SM, padahal setelah ditelusur kaisar Jinmu memerintah sejak permulaan abad Masehi. Banyak hal yang bukan dari zaman purba dimasukkan ke dalamnya. Diperkirakan kebohongan itu ditulis dengan tujuan politik dan agama untuk mempertinggi martabat kerajaan dan memberikan bukti adanya zaman purbakala. Ada juga Fudoki (legenda dan profil tiap daerah), dan Manyōshū (kumpulan puisi. Ada sekitar 4500 puisi). Manyōshū ditulis dengan Manyōgana yaitu tulisan dengan struktur bahasa Cina (Kanji) tetapi menggunakan cara baca Jepang.
4
Zaman Heian (794-1185 Masehi )
Kekuasaan politik istana kekaisaran berada di tangan segelintir keluarga bangsawan yang disebut kuge, khususnya klan Fujiwara yang berkuasa dengan gelar Sesshō and Kampaku.
Pada akhir zaman Heian bermunculan berbagai klan samurai. Empat klan samurai yang paling kuat adalah klan Minamotoklan Tairaklan Fujiwara, dan klan Tachibana. Memasuki akhir abad ke-12, konflik antarklan berubah menjadi berbagai perang saudara seperti Pemberontakan Hōgen dan Pemberontakan Heiji. Setelah berakhirnya Perang Genpei, Jepang berada di bawah pemerintahan militer oleh klan-klan samurai di bawah pimpinan seorang shogun.
Puncak kejayaan istana kekaisaran di bidang puisi dan sastra terjadi pada zaman Heian. Pada awal abad ke-11, Murasaki Shikibu menulis novel Hikayat Genji yang hingga kini merupakan salah satu dari novel tertua di dunia. Pada zaman Heian selesai disusun naskah tertua koleksi puisi Jepang, Man'yōshūdan Kokin Wakashū.
Pada zaman Heian berkembang berbagai macam kebudayaan lokal, misalnya aksara kana yang asli Jepang. Pengaruh budaya Cina surut setelah sampai di puncak keemasan.
2.    Zaman Feodal Jepang
NO
ZAMAN
SISTEM POLITIK
SISTEM SOSIAL BUDAYA
1
Zaman Kamakura (1185-1333 )
Abad pertengahan berlangsung selama hampir 700 tahun ketika pemerintah pusat, istana, dan Kaisar Jepang umumnya hanya menjalankan fungsi-fungsi seremonial. Urusan sipil, militer, dan kehakiman dikendalikan oleh kelas samurai. Secara de facto, penguasa negeri kekuasaan politik berada di tangan shogun yang berasal dari klan samurai yang terkuat.
Pada 1185, Minamoto no Yoritomo menghancurkan klan Taira yang merupakan musuh bebuyutan klan Minamoto. Setelah pada tahun 1192 diangkat oleh Kaisar sebagai Seii Tai-Shogun, Yoritomo mendirikan pemerintahan militer di Kamakura dan berkuasa sebagai shogun pertama Keshogunan Kamakura. Setelah wafatnya Yoritomo, klan Hōjō menjadi klan yang berpengaruh dan bertugas sebagai wali shogun.
Zaman Kamakura berakhir setelah runtuhnya kekuasaan Keshogunan Kamakura pada tahun 1333. Kekuasaan dikembalikan ke tangan kekaisaran di bawah pemerintahan Kaisar Go-Daigo dalam masa Restorasi Kemmu (1333-1336) yang hanya berlangsung singkat. Pemerintahan Go-Daigo kembali ditumbangkan oleh Ashikaga Takauji.
Peristiwa terbesar dalam periode Kamakura adalah invasi Mongol ke Jepang antara 1272 dan 1281. Pasukan Mongol dengan teknologi angkatan laut dan persenjataan yang unggul mencoba menyerbu ke kepulauan Jepang. Angin topan yang kemudian dikenal sebagai kamikaze (angin dewa) membuat kekuatan invasi Mongol tercerai-berai.
Meskipun demikian, beberapa sejarawan bersikeras bahwa pertahanan pantai yang dibangun Jepang di Kyushu cukup memadai untuk mengusir para penyerbu. Walaupun invasi Mongol berhasil digagalkan, usaha mengatasi serbuan bangsa Mongol menyebabkan berakhirnya kekuasaan keshogunan akibat kekacauan politik dalam negeri.
2
Zaman Muromachi
(1336-1573)
Kekuasaan pemerintah berada di tangan Keshogunan Ashikaga yang juga disebut Keshogunan Muromachi. Pendiri Keshogunan Ashikaga adalah Ashikaga Takauji yang merebut kekuasaan politik dari Kaisar Go-Daigo dan sekaligus mengakhiri Restorasi Kemmu. Zaman Muromachi berakhir pada tahun 1573 ketika shogun ke-15 sekaligus shogun Muromachi terakhir, Ashikaga Yoshiaki diusir dari ibu kota Kyoto oleh Oda Nobunaga.
Tahun-tahun awal zaman Muromachi juga disebut zaman Nanboku-cho atau zaman Istana Utara-Istana Selatan ketika kekuasaan istana terbelah dua menjadi Istana Utara dan Istana Selatan. Sejak tahun 1467 hingga berakhirnya zaman Muromachi disebut sebagai zaman Sengoku atau "zaman negara-negara bagian yang berperang". Pada zaman Sengoku terjadi perang saudara dan perebutan kekuasaan antarprovinsi.
Pada masa ini pula terjadi kontak pertama Jepang dengan orang-orang Barat yang disebut Perdagangan dengan Nanban ketika pedagang-pedagang Portugis tiba di Jepang.
Sebuah kapal Portugis yang berlayar ke Cina terkena badai dan merapat di sebuah pulau Jepang bernama TanegashimaSenjata api yang diperkenalkan oleh orang Portugis membawa kemajuan teknologi militer dalam periode Sengoku, dan berpuncak pada Pertempuran Nagashino yang melibatkan pasukan samurai yang dipersenjatai dengan 3.000 pucuk arquebus (jumlah sebenarnya diperkirakan sekitar 2.000 pucuk). Selama perdagangan dengan Nanban, para pedagang dari negara-negara lainnya, Belanda, Inggris, dan Spanyol juga ikut berdatangan. Kedatangan para pedagang juga membawa penyebar agama Kristen, Serikat YesuitOrdo Dominikan, dan misionarisFransiskan
3
Zaman Azuchi-Momoyama
(1573-1603)
Jepang bersatu secara militer dan negara menjadi stabil di bawah kekuasaan Oda Nobunaga yang dilanjutkan oleh Toyotomi Hideyoshi. Istilah zaman Azuchi-Momoyama berasal dari nama istana (kastil) yang menjadi markas kedua pemimpin besar, Nobunaga di Istana Azuchi dan Hideyoshi di Istana Momoyama.
Setelah berhasil menyatukan Jepang, Hideyoshi berusaha memperluas wilayah dengan melakukan invasi ke Korea. Dua kali usaha penaklukan Korea berakhir dengan ditarik mundurnya pasukan Hideyoshi dari Semenanjung Korea pada tahun 1598 akibat dikalahkan pasukan gabungan Korea dan Cina, serta wafatnya Hideyoshi.
Konflik suksesi pasca-Hideyoshi berakhir dengan munculnya Tokugawa Ieyasu sebagai pemimpin baru Jepang. Kekuasaan pemerintahan beralih ke tangan Ieyasu setelah mengalahkan pasukan pendukung Toyotomi Hideyori dalam Pertempuran Sekigahara.
         Dari segi arsitektur, bangunan dibuat secara mewah. hal itu terlihat dari istana Azuchi, istana Momoyama dan istana Oosaka. Dari segi seni, kebiasaan minum teh juga makin berkembang dan kebiasaan tersebut ditetapkan sebagai suatu tatacara minum teh yang disebut Sadō. Dari segi bahasa, kosakata asing mulai masuk karena pada zaman ini perdagangan dengan bangsa barat dibuka.
3.    Zaman Modern Jepang
NO
ZAMAN
SISTEM POLITIK
SISTEM SOSIAL BUDAYA
1
Zaman Edo (1603-1868)
Pada zaman Edo adalah pemerintahan otonomi daerah berada di tangan lebih dari dua ratus pejabat daimyo. Sebagai klan terkuat, pemimpin klan Tokugawa dari generasi ke generasi menjabat sebagai shogun (sei-i taishōgun). Keshogunan Tokugawa yang bermarkas di Edo (sekarang Tokyo) memimpin para daimyo di masing-masing daerah otonom yang disebut domain (han).
Kelas samurai ditempatkan oleh keshogunan di atas kelas rakyat biasa, petani, perajin, dan pedagang. Keshogunan mengeluarkan undang-undang yang mengatur segala aspek kehidupan, dimulai dari potongan rambut dan busana untuk masing-masing kelas dalam masyarakat. Shogun mewajibkan para daimyo secara bergantian untuk bertugas di Edo. Mereka disediakan rumah kediaman mewah di Edo agar tidak memberontak. Kekuatan militer daimyo daerah ditekan, dan diharuskan meminta izin dari pusat sebelum dapat memperbaiki fasilitas militer. Keshogunan Tokugawa runtuh setelah Perang Boshin 1868-1869.
Zaman Edo adalah zaman keemasan seni lukis ukiyo-e dan seni teater kabuki dan bunraku. Sejumlah komposisi terkenal untuk kotodan shakuhachi berasal dari zaman Edo.
2
Meiji (1868-1912)
Struktur pemerintahan pusat atau daijō kan yang dibentuk pada tahun 1868, merupakan kombinasi antara struktur pemerintahan pada periode Nara dan Heian dan sistem pemerintahan di barat. Daijō kan terdiri dari lembaga legislatif, lembaga eksekutif, urusan Shinto, keuangan, militer, hubungan luar negeri, dan urusan dalam negeri. Kementerian Kehakiman dibuat terpisah, sama seperti yang diterapkan di barat.
Dan pada tahun 1871, bentuk pemerintahan daerah yang dikuasai oleh daimyō  atau klan tertentu dihapuskan melalui haihanchiken . Dengan peraturan ini, diperkenalkan sistem sentralisasi dengan pengontrolan penuh dari pemerintah pusat. Selanjutnya pemerintah pusat membentuk dewan perwakilan di setiap prefektur, municipal, kota dan desa.
Adapun pemerintah pusat mengadakan reorganisasi pada tahun 1869 untuk memperkuat kekuasaan pusat, dengan membentuk Majelis Nasional sebagai lembaga tertinggi, membentuk Dewan Penasihat atau sangi  dan delapan kementrian yaitu, Kementerian Dalam Negeri, Kementrian Luar Negeri, Keuangan, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Urusan Rumah tangga kekaisaran, Kehakiman, Pekerjaan Umum, dan Pendidikan.
Sekalipun Majelis Nasional adalah lembaga tertinggi, sistem pengambilan keputusan dilakukan secara tertutup oleh hanbatsu atau oligarki Meiji yang beranggotakan klan-klan yang mendirikan dinasti Meiji yaitu Klan Satsuma, Chōshuu, Tosa, Hizen, dan dari Pengadilan Kerajaan). Sistem oligarki menyebabkan kecemburuan di kalangan klan yang lain, dan memicu gerakan pembentukan Konstitusi Jepang.
Modernisasi di bidang kebudayaan terus dilakukan pada tahun 1872 (meiji V), pemerintah menetapkan sistem pendidikan di mana masyarakat yang memiliki pekerjaan dan status macam apapun dapat mengikuti pendidikan. Selain itu, pemerintah Meiji pun mengirimkan banyak mahasiswa ke negara-negara Eropa dan Amerika dan mengundang banyak ahli teknik dari negara-negara Barat. Kebudayaan Barat yang maju pun diadopsi oleh pemerintah. Di bidang kehidupan sehari-hari, diberlakukan kalender Solar Gregorian, agama Kristen akhirnya diakui karena adanya kritik-kritik dari luar negeri. Teknik cetak berkembang sehingga koran yang menyebarluaskan politik dan humaniora banyak diterbitkan. Kebudayaan di kota-kota besar yang merupakan salah satu kebudayaan yang menghasilkan kombinasi seni cetak balok kayu, teater Kabuki, novel, mode pakaian, dan perpustakaan, kebanyakan terikat dengan Geisha atau perempuan yang hadir setiap kota tempat hiburan. Memotong rambut kuncir menjadi pendek dan memakai pakaian ala Barat telah menjadi gaya hidup baru, di samping itu, daging sapi yang biasanya tidak dimakan akhirnya mereka makan dan mulai pada waktu itu banyak dijumpai restoran sukiyaki. Gaya hidup baru mencakup bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, sandang, pangan, papan, dan lainnya adalah kebudayaan Barat yang baru yang semaki lama semakin diterima masyarakat dan disebut istilah Bunmei Kaika (masa peradaban dan pencerahan).
3
Taishō ((1912 M – 1926 M)
Pada zaman Taisho ini, Jepang terlibat pada Perang Dunia 1, perang yang terbekecamuk di kawasan Eropa. Jepang tergabung dalam pasukan Sekutu, tapi hanya memainkan peranan kecil dalam pertempuran melawan pasukan kolonial Jerman di Asia Timur. Jepang bersekutu dengan Inggris dan mendeklarasikan perang melawan Jerman pada tanggal 23 Agustus 1914. Jepang pun menduduki daerah jajahan Jerman yang ada di Cina (di Shantung) seperti Shandong dan Jiaozhou. Dan dengan direbutnya kepulauan Caroline dan Tsiangtao dari tangan Jerman. Kekuatan Jepang di Asia tumbuh dengan runtuhnya rezim Tsar di Rusia dan kekacauan Revolusi Bolshevik tahun 1917 M di Siberia. Kesempatan tersebut digunakan Jepang untuk menduduki Siberia. Tapi untuk melakukannya Jepang harus bernegosiasi dengan Cina agar bisa mendapatkan tempat transit untuk pasukan Jepang. Akhirnya pada tanggal 2 November 1917, diadakan perjanjian Ishii-Lansing yang menghasilkan kebijakan "Pintu terbuka",
         Pada zaman Taishō lahirlah sastrawan bernama Akutagawa Ryūnosuke yang menulis novel "Rashomon","Hana", "Jigokuhen", dll. Dia meninggal dengan cara bunuh diri. Ada juga Tanizaki Jun'ichirō dengan karyanya"Shunkinshō", "Sasameyuki". Shiga Naoya dengan karyanya "Anyakoro". Mushanokōji Saneatsu dengan karyanya"Sono Imōto". Kobayashi Takiji dengan karyanya "Kanikōsen".
Era Taisho menjadi awal sejarah industris film di Jepang, pada mulanya konsep dan ide-ide pemikiran barat dalam pembuatan film ini mengambil cerita dan aktor teater kabuki dan drama baru. Perbedaannya adalah film menggunakan teknik akting dan skrip atau naskah. Teater bioskop pertama sebenarnya dibangun pada tahun 1903, dan pada 1918 para pembuat film Jepang berkiblat pada film-film asing sebagai inspirasi mereka. Seperti teknik Close-up, long-shots, continius action, simple mobile camera technique, artificial lighting (pencahayaan buatan), Shots on location (syuting lokasi), sub judul, dan aktris untuk peran perempuan, yang membantu film bebas dari standar nilai estetika masalalu.


4
Shōwa(1926 M – 1989 M)
Kaisar Shōwa merupakan kaisar yang paling lama berkuasa dari seluruh kaisar Jepang sampai saat itu. Zaman ini diawali saat Jepang turun ke totalitarisme politik, ultranationalisme dan fasisme yang berpuncak pada invasi Jepang di Cina pada tahun 1937. Ini merupakan bagian dari keseluruhan periode global gejolak sosial dan konflik seperti Perang Dunia II.
Pada zaman terjadi pemugaran besar-besaran. Pada tahun 1928, Istana Himeji ditunjuk sebagai peninggalan bersejarah di bawah pengawasan kementerian pendidikan, sedangkan pengelolaannya dilakukan oleh kota Himeji. Menara utama kemudian ditetapkan sebagai pusaka negara pada tahun 1931. Undang-undang perlindungan peninggalan budaya yang diberlakukan sejak tahun 1950 memasukkan Istana Himeji ke dalam daftar situs peninggalan budaya yang terpenting.
Peluang untuk memulai pemugaran besar-besaran zaman Showa mulai terbuka pada tahun 1934 setelah tembok batu Watari-yagura yang terletak di Nishinomaru roboh secara beruntun akibat hujan deras. Pemugaran dilakukan dengan membongkar bangunan yang ada kemudian memasangnya kembali setelah memperbaiki bagian-bagian yang rusak. Pekerjaan dimulai dari bangunan-bangunan di luar menara utama, tapi pekerjaan terpaksa dihentikan pada tahun 1944 karena keadaan Jepang yang makin memburuk dalam Perang Dunia II. Istana Himeji ternyata beruntung dapat lolos dari serangan udara, sehingga pada tahun 1950 proyek pemugaran dapat dimulai kembali. Pada tahun 1955, pemugaran semua bangunan dinyatakan selesai kecuali pemugaran menara utama.
5
Heisei(1989 M – sekarang)
periode heisei, era saat ini di jepang, dimulai pada 8 januari, 1989 hari setelah kematian kaisar hiroto (anumerta bernama kaisar showa).putranya, akihito, berhasil takhta dan saat ini kaisar memerintah jepang. nama heisei berasal dari dua teks-teks cina historis, shujing dan shiji, dan dimaksudkan untuk berarti "perdamaian di mana-mana".

pada awal periode heisei ekonomi jepang berkembang pesat mulai lambat dan dengan 1991, "gelembung harga aset jepang" telah berakhir.real estate dan harga saham mencapai rekor terendah dan bank bergegas untuk menyelesaikan kredit macet. kredit menjadi sangat sulit untuk mendapatkan dan tanah ekspansi ekonomi berhenti. di jepang, tahun 1990 kemudian dikenal sebagai "dekade yang hilang". hampir dua puluh tahun kemudian, tingkat suku bunga dekat 0% dan kredit masih sulit untuk mendapatkan. efek dari krisis ekonomi pada keluarga jepang rata-rata telah terbatas dan ini mungkin karena penekanan jepang berhemat dan menabung. ekspor jepang utama meliputi mobil, mesin industri, dan aksesoris komputer. amerika serikat mengimpor sekitar seperempat dari semua ekspor jepang. di masa lalu jepang telah mempertahankan surplus perdagangan dengan amerika serikat, yang telah menjadi sumber ketegangan antara kedua negara. namun, pada 2009, jepang mengalami defisit perdagangan pertamanya dalam 28 tahun karena permintaan luar negeri menyusut, khususnya di amerika serikat.

Sejak tahun 1873, Jepang secara resmi menggunakan kalender Gregorian, menggantikan kalender lama yang memakai sister perhitungan Lunar (Kalender Gengo). Namun khusus untuk penulisan nama tahun, mereka menggunakan sisterm tersendiri yang menggunakan masa jabatan kaisar mereka sebagai nama tahun.
Masa pemerintahan (kaisar) yang sekarang disebut dengan tahun Heisei yang dimulai dari tahun 1989 (Heisei 1) dan tahun sekarang 2010 disebut dengan Heisei 22. Cara penulisan nama tahun seperti ini adalah bersifat resmi seperti dipakai untuk penulisan dokumen pemerintahan, buku transaksi di bank, formulir dan data penting lainnya. Sedangkan untuk dokumen yang tidak resmi tidak merupakan keharusan, jadi bisa menggunakan tahun Gregorian.
Daftar Pustaka
Agung, Leo. 2012. Sejarah Asia Timur 1. Jakarta: Penerbit Ombak


EmoticonEmoticon