Thursday, September 19, 2013

YULIA SARI/B/SR

        Sayid Hasyim naik tahta pada tanggal 21 oktober 1889 dengan gelar Sultan Sayid Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Syarif Hasyim dikenal dengan nama Tengku Ngah. Beliau adalah putera Sultan Kasim I dari isterinya yang kedua bernama Tengku Long Jiwa (Tengku Dalam). Sedangkan isteri pertama yang bernama Tengku Ipah binti Tengku Endut mempunyai dua putera,  yang satu bernama Tengku Muda Sayid Hasan dan Tengku Bagus Sayid Toha.
        Pada masa Sultan Syarif Kasim memerintah negeri Siak, Tengku Ngah Sayid Hasyim telah bertugas sebagai Panglima perang dan juga ditugaskan untuk mengendalikan pedagang-pedagang Cina yang masuk ke Bagan Siapi-api. Begitu pula ketika Sayid Hasyim melaksanakan tugas di Bagan Siapi-api tersebut, Sayid Hasyim termasuk seorang Panglima yang tegas dan keras namun banyak masalah pajak dan kontrak perdagangan candu yang tidak selesai dengan orang-orang Cina di Bagan Siapi-api. Pembuatan Perjanjian dengan orang Cina yang bernama seperti Kho Sie Lin, Ban Hin penjualan candu, Garam dan lain-lain serta pengaduan Seng Guan masalah pajak  candunya tidak selesai kepada Tengku Ngah, beliau menjawab tidak perlu digaduhkan nanti diselesaikan. Tingkah laku Tengku Ngah membuat pusing Sultan Kasim I dan Tengku Muda sebagai wakil Sultan, karena apa yang diperbuatnya di Bagan Siapi-api tanpa sepengetahuan Sultan ataupun wakilnya Tengku Muda.
        Setelah Sultan Syarif Hasyim memerintah di Kerajaan Siak, beliau membuat kegiatan-kegiatan untuk membangun negeri Siak dengan jalan meningkatkan perekonomian kerajaan dan perekonomian rakyat dengan cara bersatu padu meningkatkan usaha perdagangan. Untuk mempertegas bidang perekonomian ini, Sultan Syarif Hasyim membuka hubungan siak dengan Teratak Buluh dan Kampar.
        Sultan Syarif Hasyim dalam melaksanakan pemerintahan Kerajaan Siak beliau sangatlah gigih, terutama dalam melakukan kontak dagang antara negeri Siak dengan Bagan Siapi-api, negeri Siak dengan Pekanbaru dan terus hingga ke Singapura sampai ke Malaka. Semua barang dagangan serta para penumpang yang akan berlayar harus menaiki kapal kerajaan yang dijadikan kapal tambang, bagi orang-orang yang mau datang ke Negeri Siak.
        Meskipun pada masa pemerintahannya banyak daerah kekuasaan Kerajaan Siak  yang lepas menjadi daerah kekuasaan Belanda, namun beliau tetap meningkatkan perekonomian rakyat. Usaha pertama adalah menciptakan lapangan kerja bagi rakyat, sehingga pengangguran dapat diatasi dan rakyat mendapat pekerjaan dalam semua bidang. Dengan demikian perekonomian rakyat berangsur maju. Beliau selau melakukan studi banding ke daerah luar bahkan sampai ke Eropa, yakni Jerman dan Belanda hingga sampai ke Timur Tengah. Pengalaman yang dilakukannya selama berkunjung keluar negeri tersebut digunakan untuk kepentingan memajukan kerajaan.
        Tahun 1898 Sultan Syarif Hasyim mengadakan lawatan ke Eropa untuk memenuhi undangan Ratu Hilma dalam rangka penobatan puterinya Ratu Wilhelmina di negeri Belanda. Sultan Syarif Hasyim dinaikan ke atas sebuah Kereta Kencana yang dikawal oleh pasukan berkuda tentara kerajaan Belanda. Kemudian sebagai tanda kehormatan dari pihak kerajaan Belanda, Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin diberi anugrah bintang kehormatan " Ridder in orde van Nederlandse"
        Pengalaman perjalannya memenuhi undangan Ratu Hilma dari Belanda ini memberi dorongan yang kuat akan membangun negeri Siak. Setelah selesai mengikuti upacara penobatan Ratu Wilhelmina, Sultan mendapat hadiah sebuah patung potret dirinya yang dibuat dari bahan batu pualam. Hadiah dari Ratu Hilma sebuah patung tembaga potret dirinya.
        Sekembalinya Sultan Syarif Hasyim dari pelawatannya di Eropa, beliau membangun sebuah istana yang megah di Siak Sri Indrapura yang diberi nama Istana Asserayah Hasyimiah yang berarsitektur gabungan Eropa dan Arab dan Arsiteknya adalah seorang Insinyur dari Perancis. Istana mulai dibangun pada 1890 oleh kepala tukang yang bernama Van de Worde dan selesai dibangun pada 1899. Interior dan perabotan didatangkan dari Jerman, sedangkan batu-batu bata dibawa dari Singapura. Diatas puncak dan pintu gerbang istana ada patung burung elang yang terbuat dari perunggu. Burung elang menggambarkan sebuah kekuasaan yang dapat mencermati kawasan wilayah kerajaan. Istana kerajaan dan perlengkapannya sampai sekarang dapat dilihat dan disaksikan oleh masyarakat yang ingin membuktikannya.
         Banyak negara dan daerah yang dikunjungi Sultan Syarif hasyim dan baginda ikut berinvestasi misalnya di Singapura, sultan membangun toko-toko dan ikut andil membangun Hotel Raffles. Di Medan beliau membangun usaha toko dan perumahan. Disamping pembangunan usaha dagang, beliau memperhatikan kehidupan rakyatnya dan menganjurkan kepada rakyatnya dapat menanam karet, membuat perkebunan karet balai kayang,perkebunan karet dilubuk ampoi dan penanaman kelapa sawit di Okura bekerja sama dengan bangsa Jepang, membuat kebun sagu dan kebun durian di setiap wilayah kerajaannya.
        Sultan Syarif Hasyim adalah seorang sultan yang berhasil membangun negeri siak, beliau menata kota Siak secara rapi, beliau juga membangun istana untuk isterinya Tengku Embung dengan beratap kajang bertingkat memakai selembayung dan sayap layang-layang diujung atapnya.
        Untuk menata pemerintahan, Sultan membangun sebuah gedung atau balai untuk tempat bermusyawarah dan mufakat atau dengan kata lain Balai Kerapatan Tinggi yang diberi nama "Balai Rung Sari". Bangunan balai tersebut dipergunakan sebagai ruang kerja sultan beserta aparatur pemerintahan kerajaan. Balai dibangun berlantai dua berbentuk arsitektur Melayu dan beratap kajang limas pakai tunjuk langit berukir kelok paku. Gedung Balai Kerapatan atau Balairung Seri merupakan tempat acara perlantikan dan kantor besar kerajaan serta tempat pelaksanaan  sidang-sidang adat, baik masalah pelanggaran adat maupun mahkamah syari'ah yang dipimpin oleh sultan.
        Dengan adanya kedua bangunan yang megah tersebut menjadikan Kerajaan siak semakin maju dan pihak Belanda nampaknya semakin menekan beliau. Namun sultan tidak gentar dan tetap gigih untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Kemudian untuk keperluan kerajaan didirikan percetakan sendiri yang digunakan untuk mencetak segala yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan kerajaan termasuk mencetak buku pedoman atau undang-undang kerajaan yang bernama Bab al-Qawaid yang artinya Pintu Segala Pegangan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Bab Al-Qawaid ditulis pada periode kedua yakni ketika Kerajaan Siak dipimpin oleh sultan yang berketurunan Arab.
        Banyak yang dilakukan Sultan Syarif Hasyim Sultan kesebelas ini terhadap kemajuan kerajaan yang dipimpinnya. Disamping memajukan perekonomian rakyat, Sultan syarif hasyim juga mempersiapkan pewaris tahta kerajaan kepada putera mahkotanya yang bernama Syarif Kasim. Syarif Kasim diberi kesempatan menuntut ilmu pengetajuan di Batavia atau Jakarta.
        Pada 1908, Sultan pergi ke Singapura dalam usaha peningkatan hubungan perekonomian kerajaan siak untuk bertemu dengan pengusaha Belanda, Inggris dan Cina dengan maksud mengadakan hubungan perdagangan ke negeri Siak. Keberangkatan Sultan tentulah diiringi oleh orang-orang besar kerajaan. Dengan tiada diduga-duga  Sultan Syarif Hasyim mangkat diSingapura bertepatan pada 2 April 1908.
        Jenazah Sultan Syarif Hasyim disemayamkan di Istana Asserayah Hasyimiah. Menurut adat kerajaan Siak bahwa setiap sultan mangkat harus segera diganti dengan sultan penggantinya. Akan tetapi putera sultan Tengku Sulung Sayed Kasim masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia. Dengan musyawarah Datuk Empat Suku  tidak menobatkan sultan pengganti tetapi diberi tugas kepada Tengku Besar Sayid Sagaf sepupu Sayid Kasim, anak saudara ayahandanya sebagai penjabat Sulatn dan didampingi oleh datuk Datuk Lima Puluh. Maka pada hari itu dihadapan jenazah Syarif Hasyim, Tengku Besar Diangkat sebagai ragen kerajaan siak dan didampingi oleh datuk lima puluh mulai tahun 1908 sampai 1915 sambil menunggu syarif kasim dewasa dan selesai mengikuti pendidikan bagi putera-putera Raja diBatavia (Jayakarta). Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin dimakamkan di komplek pemakaman kerajaan Kota Tinggi Siak Sri Indrapura dengan Gelar Marhum Baginda.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penulis Sejarah Kerajaan Siak, Sejarah Kerajaan Siak, Lembaga Warisan Budaya Melayu Riau, Siak, 2011
       


EmoticonEmoticon