Thursday, September 12, 2013

MELDA ARIANI/B/SR
Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin atau yang dikenal dengan Sultan Syarif Kasim II merupakan sultan yang terakhir atau sultan yang ke-12 Kerajaan Siak. Sultan Syarif Kasim II dilahirkan di Siak pada tanggal 1 Desember 1893, Syarif merupakan anak dari Sultan Syarif Hasyim I yang merupakan sultan ke 11 Kerajaan Siak hasil pernikahan dengan permaisuri Tengku Yuk. Setelah ayahnya, Sultan Assyaidin Hasyim I Abdul Jalil Syaifuddin wafat pada 1908, Syarif Kasim II dinobatkan sebagai sultan ketika usianya masih 16 tahun, Namun, karena belum cukup umur dan tengah menempuh pendidikan di Batavia, Syarif Kasim II dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Siak Indrapura pada 13 Maret 1915 dengan gelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin, Dia memimpin  selama 30 tahun, yakni dari tahun 1915 sampai 1945.
Sultan Syarif Kasim II  amat menyadari pentingnya pendidikan sebagai tonggak bagi perubahan suatu kaum, mencoba mencerdaskan rakyatnya dengan mendirikan sekolah-sekolah di Siak. Putra-putri Siak yang cerdas dan berprestasi, mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan ke Medan dan Batavia. Di bawah kepemimpinan Sultan Syarif Kasim II, Siak menjadi ancaman bagi Pemerintah Hindia Belanda. Soalnya dia secara terang-terangan menunjukkan penentangannya terhadap penjajahan. Dengan lantangnya Syarif Kasim II menolak Sri Ratu Belanda sebagai pemimpin tertinggi para Raja di Kepulauan Nusantara, termasuk Siak. Sultan Syarif Kasim tidak hanya menyayangi rakyatnya dengan kata dan ungkapan, tetapi juga dengan mencerdaskannya lewat penyediaan sekolah. Syarif Kasim mendukung perjuangan lewat seruan di istana, tapi juga hadir dalam kancah perjuangan dengan bantuan yang konkrit, Sultan Syarif Kasim II dihormati orang tidak hanya karena kedudukan sebagai raja, tetapi karena satunya kata dengan perbuatan. Beliau tidak hanya mendukung NKRI dengan maklumat dan pernyataan politik saja, tetapi juga dengan menyumbangkan harta miliknya dalam jumlah sangat besar kepada negara.
Untuk menjatuhkan Sultan Siak Belanda melenyapkan hubungan formal rakyat dengan Sultannya yaitu dengan membuat sultan kehilangan kekuatan dan pendukung dari datuk-datuk dan ketua suku sebagai rakyat yang setia dan taat patuh dengan Sultan serta Kerajaannya, karena Belanda sangat paham sekali bahwa suku dan induk yang berada di bawah Sultan sekitar 211 orang yang mempunyai pengikut-pengikut yang setia kepada kepala suku serta menjunjung tinggi perintah Sultan sebagai pimpinan Negerinya. Dengan disederhanakannya struktur pemerintahan maka sultan hanya diwakili oleh 5 kepala distrik dan 14 onder distrik yang membuat Sultan mudah menguasai dan memerintah negeri Siak inilah yang di inginkan oleh Belanda sehingga pemerintah Belanda bisa dengan mudah menguasai kerajaan Siak serta bisa dengan mudah mengambil hasil kekayaan di bumi Siak.
Dengan dihapusnya dewan kerajaan Belanda berharap akan mudah untuk menguasai atau mengendalikan Sultan Siak serta dengan mudah bisa diajak berunding, tetapi Sultan Syarif Kaim tetap menghendaki dan mempertahankan adanya kerapatan tinggi dari kerajaan Siak yang merupakan tempat bermusyawarah berunding dengan resmi dengan datuk-datuk dan orang-orang besar kerajaan yang menjadi keparcayaannya, yaitu badan peradilan yang menangani masalah Syariah Agama Islam. Badan ini di anggap Belanda dapat menambah kewibawaan Sultan maka sebab itu Belanda berusaha menghapuskannya tetapi Sultan Syarif Kasim dengan gigih mempertahankannya, dan pada akhirnya Badan ini berhasil di pertahankan, dan ini merupakan sebuah kemenagan bagi Sultan Syarif Kasim dengan dapat mempertahankan lembaga yang telah di tetapkan oleh ayahandanya. Walaupun lembaga ini disetujui oleh Belanda tetapi setiap di adakannya persidangan harus dihadiri sendiri oleh pemerintah Belanda. Selain igin menguasai pemerintahan Kesultanan Siak Belanda juga berusaha untuk menguasai sumber daya alam kerajaan Siak yang kaya akan berbagai hasil hutan.
Banyak kebijakan pemerintahan Belanda yang mendapat tantangan dari Kesultanan Siak, seperti pelaksaan rodi bagi rakyatnya pada tahun 1916 yang bekerja pada Belanda tetapi tidak mendapatkan upah, sehingga menguras tenaga dan menambah kemiskinan, penolakan ini cukup menimbulkan ketegangan antara pemerintah Belanda dengan Sultan Siak. Belanda terus memaksakan kehendaknya tetapi dengan diam-diam Sultan mengadakan hubungan dengan kepala suku untuk menentang kehendak Belanda, sehingga terjadi pemberontakan rakyat yang pertama melawan Belanda pada Desember 1931 di Pulau Merbau yang dipimpin oleh Koyan menyerang polisi Belanda serta membunuh Patroli polisi Belanda. Pemberontakan ini membuat Belanda marah mereka menganggap pemberontakan itu sebagai sebuah penghinaan dan pelecehan serta menurunkan wibawa pemerintahan Belanda di kawasan Kerajaan Siak, dan pemerintahan Belanda pun mengirimkan pasukan tetapi tidak berhasil menghentikan pemberontakan tersebut sehingga akhirnya karena marah pasukan Belanda membakar rumah-rumah rakyatdi Selat Akar tersebut. Dengan adanya pemberontakan ini Sultan Siak memandang bahwasanya kekuatan fisik haruslah diimbangi dengan kekuatan pembinaan mental dan pendidikan rakyat. Untuk itu sejak Sultan Syarif Kasim dinobatkan menjadi Sultan di kerajaan Siak beliau sudah mulai membangun sekolah untuk rakyatnya dan pada tahun 1929 sampai dengan tahun 1939 sultan memberikan beasiswa kepada anak-anak negeri yang berbakat, bahkan sampai dikirim belajar ke Batavia, Medan, dan Bukittinggi.
 Sejak kedatangan Jepang ke Siak  yaitu melalui Bukittinggi menuju Pekanbaru hingga sampai ke Siak,  Sultan Syarif Kasim tidak ada rasa ragu dalam menghadapi Jepang karena semenjak dari ayahandanya Sultan Syarif Kasim sudah ada hubungan dengan pengusaha Jepang tentang penanam Industri karet di Siak Sri Indrapura. Jepang mengetahui bahwasanya Sultan Syarif Kasim adalah Sultan yang tidak sepaham dengan pemerintahan Belanda, hal ini yang diperhatikan oleh Jepang pada Kerajaan Siak sehingga kedatangan Jepang menjadi sahabat, dan Jepang menganggap Kerajaan Siak adalah sahabat dan bekerja sama untuk mengusir Belanda. Tetapi setelah Jepang berkuasa di Siak tentara Jepang bertindak sewenang-wenang kepada rakyat, sehingga terjadi pemberontakan rakyat Sakai yang di pimpin Sekodai yang membuat Jepang marah dan mengancam Sultan menyelesaikan masalah pemberontakan Sikodai, Sultan pun mengutus orang kaya Mohamad Jamil bersama Datuk Arifin untuk membujuk dan menangkap Sikodai di pedalaman Balai Pungut, setelah Sikodai ditemukan dikediamannya du hulu sungai Balai Pungut dan dikatakan bahwa Sultan Syarif Kasim ingin bertemu dengannya dengan lapang hati yang lapang Sikodai mengikut saja, setelah bertemu dengan Sultan dia ditahan beberapa bulan kemudian keluar karena dia dapat memperdaya pimpinan Jepang dia mengatakan bahwa di hutan Balai Pungut  masih banyak orang Belanda, mereka bersama sama masuk hutan rimba itu kemudian Sikodai pun menghilang dan tidak dapat di temukan lagi oleh tentara Jepang hingga tersiar kabar bahwa Hirosima dan Nagasaki di bom oleh Amerika dan akhirnya Jepang pun pulang ke Negerinya.
Riau di bawah Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Kasim II. Ketika Jepang kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim menghadapi 3 pilihan:
1.       berdiri sendiri seperti dahulu,
2.       bergabung dengan Belanda,
3.       bergabung dengan Republik
Sultan sebagai sosok yg wara' dan keramat melakukan istikharah. Saya kuat menduga Allah memberitahu SSK agar bergabung dg Republik Indonesia karena kekayaan Riau yg sangat berlimpah dan berlebihan kalau sekedar dikuasai sendiri. Maka Sultan menentukan pilihan bergabung dg Republik Mendukung NKRI bukan menyerahkan diri. Sultan menurunkan modal 13 juta Golden (3x nilai kompleks gedung Sate, Bandung), bersama sama dengan para komisaris lainnya di PT. NKRI (Deli, Asahan Siak, Yogya, Solo, Kutai Kartanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa daerah-daerah yg termasuk Zelfbestuuren-berpemerintahan sediri pada jaman pendudukan Belanda di nusantara. Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden. Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan meninggal di Rumbai pada tahun 1968. Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu. Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Penulis Sejarah Kerajaan Siak, Sejarah Kerajaan Siak, Lembaga Warisan Budaya Melayu Riau, Siak, 2011
Yusuf Ahmad, Drs dkk, Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002, Badan Kesejahteraan Sosial Provinsi Riau, Pekanbaru, 2004
www.translate.com/...kerajaan-siak-sri-indrapura


EmoticonEmoticon