Friday, September 6, 2013

Miris dan sedih melihat dunia Islam dewasa ini. Fitnah dan pengkafiran terhadap suatu kelompok yang berbeda seolah sudah menjadi hal lumrah dan layak untuk sebarluaskan, terlebih kepada madzhab Syiah. Lihat saja, misalnya: pengusiran kelompok Tajul Muluk di Sampang, Madura; fitnah terhadap rezim Basyar Al Assad di Syria (Suriah); fitnah yang tak henti-hentinya terhadap Iran yang dituding sebagai antek Yahudi (padahal justru Iranlah yang paling getol menyuarakan anti zionis dan selalu berkonfrontasi dengan Israel sedangkan negera-negara Arab lainnya justru “bermesraan” dengan Israel), merupakan beberapa bukti bahwa Syiah seolah-olah musuh bersama yang harus ditumpas dan dimusnahkan dari muka bumi.

Sebagai muslim, tentu saya heran dan bertanya-tanya, apakah Syiah sedemikian sesat sehingga MUI Jawa Timur pun perlu mengeluarkan fatwa tentang sesatnya Syiah? Bukankah kebanyakan muslim di Jawa Timur itu penganut NU, yang secara tradisi lebih dekat kepada Syiah, bahkan Gur Dur (alm) secara berkelakar pernah mengatakan bahwa "NU itu Syiah minus Imamah sedangkan Syiah itu NU plus Imamah", tapi MUI-nya membuat fatwa seperti itu? Lalu kenapa orang-orang sekaliber Quraish Shihab, Amien Rais, Din Syamsuddin (ketua Muhammadyah), Said Aqil Syiradj (ketua NU), dan beberapa tokoh Islam lainnya tidak mempermasalahkan keberadaan Syiah bahkan cenderung membelanya?

Orang awam seperti saya tentu akan semakin puyeng dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Beruntung saya memiliki ustadz yang selalu bisa memberikan tausyiah-tausyiah menyejukkan. Sekalipun berada di kampung, ustadz saya ini cukup terbuka dan memiliki wawasan yang luas. Maka pada kesempatan mudik kemarin saya manfaatkan untuk silaturahmi dan bertanya kepada beliau seputar ajaran Syiah. Berikut adalah dialog saya dengan ustadz tersebut:

Saya : Ustadz pasti tahu peristiwa Sampang dan fatwa MUI Jatim yang menyatakan bahwa Syiah itu sesat. Apa tanggapan ustadz?

Ustadz : Hmm... (tersenyum) Kalau Syiah itu sesat berarti saya dan kamu juga sesat.

Saya : Lho, kok bisa gitu? Emang kenapa?

Ustadz : Kamu Syafi’i kan?

Saya : Ya... saya kan mengikuti ustadz. Kalau ustadz bermadzhab Syafi’i berarti saya juga bermadzhab Syafi’i. Emang apa hubungannya dengan Imam Syafi’i?

Ustadz : Begini... Iman Syafi’i itu kan muridnya Imam Malik, sedangkan Imam Malik muridnya Imam Ja’far. Nah, Imam Ja’far ini merupakan cicit Rasulullah yang dijadikan imamnya madzhab Syiah, makanya penganut Syiah sering juga disebut penganut madzhab Ja’fari. Jadi kalau ajaran Imam Ja’far itu sesat pasti ajaran yang dibawa murid-muridnya juga, termasuk Imam Syafi’i, akan sesat.

Saya : Jadi Syiah itu tidak sesat dong?

Ustadz : Simpulkan saja sendiri, kamu kan sekolah... Bahkan mungkin kamu tahu dari buku-buku sejarah bahwa Islam yang pertama kali datang ke Indonesia itu dibawa oleh orang-orang Syiah.

Saya : Ah, ustadz... di buku-buku sejarah gak ada tuh yang menyebutkan bahwa Islam yang datang ke Indonesia itu Islam Syiah, yang ada hanya menyebutkan bahwa Islam itu dibawa oleh para pedagang dari Persia dan Gujarat.

Ustadz : Kamu ini gimana, sekolah tinggi-tinggi tapi tidak bisa menganalisa dan menarik kesimpulan.

Saya : Maksud ustadz?

Ustadz : Persia itu kan Iran sedangkan Gujarat itu salah satu wilayah di India yang berdekatan dengan Pakistan. Mayoritas penduduk Iran kan beraliran Syiah, jadi sangat mungkin kalau Islam yang pertama kali masuk dan menyebar di Indonesia itu Islam Syiah.

Saya : Itu kan baru asumsi dan kesimpulan ustad, boleh jadi yang datang justru pedagang Persia yang beraliran Sunni atau malah pedagang dari Arab.

Ustadz : Benar... Tapi dugaan Islam yang datang pertama kali itu Islam Syiah sangat kuat karena didukung oleh peninggalan-peninggalan tradisi Syiah yang masih melekat dalam kehidupan kita.

Saya : Contohnya, ustadz?

Ustadz : Contohnya banyak, seperti tradisi tahlilan, shalawatan, tawasulan, peringatan hari asy-syuro, tabot di Bengkulu, grebegan di Yogya, dll. Itu semua tradisi Syiah sedangkan di Arab sendiri, yang mayoritas penduduknya beraliran Sunni, tidak mengenal adanya tahlilan, shalawatan, tawasulan, atau peringatan hari asy-syuro.

Saya : Ooo.... Tapi ustadz, kenapa orang Syiah membeda-bedakan shahabat rasul, bahkan beberapa shahabat rasul malah dibencinya? Bukankah menghina dan membenci para shahabat itu perbuatan sesat?

Ustadz : Kata siapa aliran Syiah membenci para shahabat?

Saya : Banyak ustadz... Bahkan di situs-situs internet juga banyak yang mengungkapkan hal itu.

Ustadz : Hehehe..... Kamu sudah termakan hasutan-hasutan murahan yang sumbernya tidak jelas. Seharusnya kamu ber-tabayyun, memeriksa asal muasal berita itu kemudian melakukan analisa dan penyimpulan. Coba kamu pikir, siapa yang diuntungkan dengan perpecahan umat Islam akibat berita-berita semacam itu?

Saya : Pastinya Amerika, Israel dan sekutunya.

Ustadz : Tepat sekali. Jadi sebagai muslim yang berakal seharusnya kita jangan mudah ditipu, dihasut, dan diadudomba seperti itu.

Saya : Saya pingin tahu saja bagaimana tanggapan ustadz mengenai berita-berita itu, apa benar orang-orang Syiah membenci sebagian para shahabat rasul yang mulia?

Ustadz : Begini... Kamu tahu kan kalau para hakim dan anggota dewan di negara kita selalu disebut yang mulia? Nah, bagaimana dengan hakim-hakim yang bisa disuap, memperjualbelikan hukum, dan anggota dewan yang korup apa masih layak disebut sebagai yang mulia atau yang terhormat?

Saya : Tentu tidak, ustadz... Bahkan mereka sangat layak untuk disebut yang terkutuk.

Ustadz : Persis! Dalam pandangan Syiah, tidak semua shahabat nabi itu baik bahkan ada beberapa shahabat, selepas nabi wafat, berubah menjadi fasik, munafik, bahkan ada yang kembali kafir. Jadi, menurut mereka, para shahabat yang seperti ini sudah tidak layak lagi untuk dihormati dan dimuliakan.

Saya : Siapa saja mereka itu ustadz?

Ustadz : Kamu kan sekolah di kota pastinya banyak buku sejarah Islam yang bisa kamu cari, atau bisa juga kamu cari di internet tentang para shahabat yang berubah menjadi fasik dan munafik selepas nabi wafat.

Saya : Tapi ustadz, sekalipun mereka berubah tapi kan mereka sudah banyak berjasa bagi Islam di masa-masa awal maka tidak sepantasnya mereka itu dihina.

Ustadz : Kamu tahu Soekarno, Soeharto, Gusdur, atau Habiebie? Apa semua bangsa kita mengagungkan dan menghormati beliau karena sudah berjasa bagi bangsa dan negara? Tidak kan, ada saja sebagian masyarakat kita yang menghina bahkan mengutuknya akibat kebijakan atau perbuatannya yang tidak disukai. Begitupun orang-orang Syiah dalam menilai para shahabat fasik itu, ada yang menghinanya tapi banyak juga yang tidak. Umumnya yang menghina itu dari kalangan yang kurang terdidik sehingga tidak bisa bersikap bijak. Coba saja kamu baca buku-buku Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, Baqir Shadr, dan kaum intelektual Islam Syiah lainnya, tidak ada satupun dari mereka menghina para shahabat itu.

Saya : Tapi ustadz, dari situs-situs yang saya baca, mereka merujuk kepada buku-buku Syiah yang memuat penghinaan terhadap para shahabat. Yang menulis buku-buku itu pastinya dari kalangan terdidik. Bagaimana tanggapan ustadz?

Ustadz : Kamu ini... keledai kok dipiara, hehehe.... Apa kamu kira Eggy Sudjana, Fajlur Rahman, Alm. Munir, dan beberapa tokoh lain itu orang bodoh? Mereka itu terdidik bahkan banyak yang bergelar Doktor (S3) tapi tetap saja mereka mendiskreditkan Soeharto dan kroninya meskipun pernah berjasa bagi kemajuan Indonesia. Dan apa kamu kira tidak ada buku-buku yang menjelekkan Soekarno, Soeharto, Gusdur, atau Habiebie? Kalau kamu cari pastinya banyak buku-buku seperti itu, dan penulisnya tentu bukan orang bodoh dan tidak terdidik. Masalah menjelekkan ini tidak ada kaitannya dengan ajaran atau faham seseorang, juga tidak ada hubungannya dengan terdidik atau tidak terdidik. Semua itu murni masalah persepsi dan interpretasi orang perorang. Jadi jangan digeneralisir dan dianggap bahwa semua orang Syiah sama, apalagi dikait-kaitkan dengan ajaran Syiah. Ajaran Syiah dengan orang Syiah itu beda, begitupun dengan Sunni dan orang Sunni. Apakah jika ada sebagian orang Sunni yang korupsi lantas ajaran Sunni menjadi salah dan sesat? Kan tidak.

Saya : Benar juga, ustadz...

Ustadz : Makanya berfikir dan tabayyun agar tidak mudah dipecah-belah dan diadu-domba oleh orang-orang yang membenci Islam (sambil mengutip surat Al-Hujurât : 6).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS, 49:6)
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan kepada beliau namun sayang waktu sudah menjelang maghrib sehingga memaksa percakapan kami diakhiri. Tapi kami sudah sepakat untuk meneruskannya esok hari karena masih banyak persoalan seputar Syiah yang ingin saya tanyakan kepada beliau, seperti tentang penyebab kebencian orang Syiah kepada khalifah Abu Bakar, 'Umar dan Utsman; tentang taqiyah, 'Abdullah bin Saba, serta isue-isue lainnya.

Bersambung...

Bahasan Dialog Seputar Syiah:
  1. Syiah = NU + Imamah, Tradisi Syiah di Indonesia
  2. Taqiyah, Abdullah bin Saba, Saqifah, Khilafah, 'Umar, Abu Bakar
  3. Utsman, Mu'awiyah, 'Aisyah, Thulaqa, Fitnatulkubro, Ahlul Bait
  4. Nikah Mut'ah, Abu Hurairah, Hadits-hadits Janggal, Shalat Jama'
  5. 12 Imam, Talfiq, Al-Qur'an Syiah, Kitab Al-Kafi, Strategi Zionis


EmoticonEmoticon