Thursday, September 12, 2013

Rezky Aditiya/ SR 3B

Latarbelakang Tuanku Tambusai
Tuanku Tambusai lahir di di Dalu-dalu, nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau pada 5 November 1784. Tuanku Tambusai memiliki nama kecil yaitu Muhammad Shalih. Bermacam-macam ramalan sewaktu anaknya yang dinamakan Muhammad Shalih dilahirkan kerana pada waktu itu terjadi hujan ribut disambut kilat, guruh-petir sabung-menyabung. Tetapi kerana Imam Maulana Qadhi seorang alim yang terpelajar, yang paham akidah Islam beliau menolak ramalan yang bercorak khurafat secara bijaksana. Bayi tersebut dipersembahkan kepada Duli Yang Dipertuan Besar Raja, Permaisuri Duli Yang Dipertuan Besar Raja berkata, "Kita doakan apabila dia alim nanti menjadi suluh dalam negeri. Kalau dia seorang berani menjadi pahlawan. Sekiranya dia kaya menjadi penutup malu. Sekiranya dia menjadi cerdik bijaksana adalah penyambung lidah untuk kebenaran dan keadilan." Beliau merupakan anak dari pasangan perantau Minang, yaitu Tuanku Imam Maulana Qadhi dan Munah.
Pembahasan
Ayahnya yang merupakan seorang guru agama Islam dan imam, telah mulai mengajarkan Tuanku Tambusai cara menunggang kuda, ilmu bela diri, tata cara bernegara, dan ilmu agama Islam. Bahkan untuk ilmu agama Islam, ayahnya mengantarkan ia untuk lebih memperdalam ilmu agamanya di Rao. Tuanku Imam Bojol dan Tuanku Rao pun turut berperan dalam pendidikan agama Tuanku Tambusai. Setelah selesai belajar di Rao, Tuanku Tambusai  mendapatkan gelar "Faqih Shalih". Kemudian ia mendapat tugas menyebarkan dakwah ke daerah yang paling rawan waktu itu, yaitu Toba (Sumatera Utara) yang sebagian besar penduduknya menganut kepercayaan pelbegu. Ketika berdakwah di daerah itu, ia difitnah ingin merombak adat nenek moyang orang Batak. Karena fitnah itu ia merasa nyawanya terancam. Merasa Toba sudah tak aman baginya, ia pun memutuskan kembali ke Rao (Sumatera Barat). Di sana ia menyiarkan agama Islam bersama Tuanku Rao ke berbagai pelosok seperti Airbangis dan Padanglawas kemudian ia mendirikan pesantren di kampungnya, Dalu-dalu. Gelar Tuanku pun disandangnya karena tingkat keilmuannya yang tinggi dalam bidang agama. Dengan gelar itu ia ditugasi sebagai Panglima Paderi di Rao. Tuanku Tambusai, selain seorang panglima, ia juga merupakan salah seorang dari empat orang paderi yang berangkat ke Mekah di tahun 1820-an untuk mempelajari perkembangan pemikiran Islam di Tanah Suci.
Ditengah-tengah beliau berdakwah, ia mendapatkan kabar bahwa Tuanku Imam Bonjol tengah berperang melawan Belanda. Tuanku Tambusai tidak tinggal diam begitu saja, kemudian Beliau ikut berperang melawan tentara Belanda dengan perjuangannya di mulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu (benteng tujuh lapis), ia kemudian  memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk melawan Belanda. Pada akhir tahun 1826, tentara Belanda tidak bisa dengan tenang masuk ke wilayah Natal karena dihadang oleh Tuanku Tambusai. Meskipun Natal sudah diserahkan Inggris ke tangan Belanda sesuai dengan Traktat London 1824. Pada tahun 1830, Tuanku Tambusai bergabung dengan pasukan Rao setelah mengamankan wilayah Natal-Airbangis. Dengan cepat ia memimpin kekuatan di Dalu-dalu (Riau), Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, Pangkalpinang dan Natal. Kemunculan Tuanku Tambusai dengan pasukannya di bagian utara terutama sekitar daerah Hulu Sungai Rokan menyebabkan Tuanku Imam Bonjol dapat bertahan dari serangan Belanda lebih lama karena pasukan Tuanku Imam Bonjol posisinya di bagian tengah. Taktik dan strategi perang diatur dua bagian oleh Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai. Tuanku Rao melalui Padang sidempana dan Tuanku Tambusai melalui Padanglawas, Gunung Tua, Bilah Panai berhimpun di Sipiruk. Kemudian Tuanku Tambusai dan Rao membangun pertahanan dengan mendirikan benteng yang terdiri dari tujuh lapis bambu terletak di Dalu-dalu. Namun pada September 1832, benteng itu jatuh ke tangan Belanda. Tuanku Tambusai memboyong pasukannya ke Tapanuli Selatan. Setelah Tuanku Rao gugur dalam pertempuran di Airbangis, praktis Tuanku Tambusailah yang memimpin pasukan Paderi di bagian utara Sumatera Barat. Walaupun Tuanku Tambusai adalah seorang tokoh paderi, tetapi penampilannya tak selalu dengan baju putih dan tidak pula memelihara janggut sebagaimana paderi-paderi lainnya. Ia merupakan ancaman yang cukup serius bagi Belanda. Peranannya dalam mengurangi tekanan Belanda terhadap pertahanan utama Paderi di Bonjol sangat besar.
Hal ini terbukti ketika Belanda yang telah menguasai Bonjol pada September 1832, akhirnya dipaksa keluar pada Januari 1833 akibat serangan Kaum Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai. Lalu pada tahun 1835, pasukannya kembali mengepung kedudukan Belanda di Rao dan Lubuk Sikaping sehingga pasukan Belanda antara satu tempat dan tempat lain terputus. Adakalanya ia menyerang pos-pos militer Belanda di Tapanuli Selatan sehingga kekuatan Belanda yang mengepung Bonjol menjadi terpecah. Namun, pada Agustus 1837, Bonjol jatuh ke tangan Belanda. Namun berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan. Dan Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Karena keberaniannya itu, ia dijuluki sebagai "De Padrische Tijger Van Rokan" yang berarti harimau Paderi dari Rokan oleh Belanda. Hanya dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai telah cukup berhasil merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga harus melawan saudara sebangsanya yang lebih memihak kepada Belanda, yaitu  pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo (bekas tentara Sentot Alibasyah). Tuanku Tambusai berusaha membujuk serdadu Belanda asal Jawa untuk membantu perjuangan karena dalam pertempuran di Lubukhari tahun 1833, Belanda menggunakan para wanita setempat sebagai tameng. Solidaritas agama pun ia manfaatkan guna mendukung perjuangannya. Sayangnya Belanda mengetahui upaya tersebut. Akan tetapi sebanyak 14 orang serdadu Belanda asal Jawa sempat bergabung dengan Tuanku Tambusai. Pada awal tahun 1838, pasukan Belanda menyerang Dalu-dalu dari dua arah, yakni Pasir Pengarayan dan dari Tapanuli Selatan. Serangan itu gagal karena Tuanku Tambusai sudah mendirikan benteng berlapis-lapis. Serangan berikutnya dilancarkan Belanda pada Mei 1838. Beberapa benteng dapat mereka rebut, namun Belanda memerlukan waktu beberapa bulan lagi sebelum perlawanan Tuanku Tambusai dapat mereka akhiri. Namun pada 28 Desember 1838, benteng pertahanan terakhir di Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Namun ia berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda dan para sekutu-sekutunya lewat pintu rahasia.
Dalam perang paderi, Tuanku Tambusai merupakan sosok pemimpin terkemuka. Kehadirannya selalu diterima oleh penduduk di daerah yang dikunjunginya. Hal itu tercermin dari sejumlah gelar yang disandangnya, seperti Ompu Bangun, Ompu Cangangna, Ompu Sidoguran dan Ompu Baleo. Bahkan Tuanku Tambusai pun terkenal sebagai seorang ulama dan pahlawan yang berpendirian keras tidak mau berunding dengan pihak penjajah Belanda. Hal ini terbukti ketika pemimpin Fort Amerongen menawarkan perdamaian padanya, ajakan itu ditolaknya mentah-mentah. Hal tersebut menunjukkan keteguhannya dalam menjaga prinsip. Hal serupa juga terjadi pada tahun 1832, saat itu Letkol Elout mengajaknya berdamai di Padang Matinggo, Rao. Dengan tegas ia berpesan pada Elout agar tidak mencampuri urusan dalam negeri orang lain. Mendengar hal itu, Elout membalasnya dengan mengatakan bahwa di mana ada Belanda di sana ia membuat kuburan. Dengan lantang Tuanku Tambusai menjawab "Jika begitu sediakan bedil !" Hal ini beliau lakukan karena beliau paham benar bahwa berunding dengan pihak penjajah Belanda berarti menyerah diri atau terperangkap dengan umpan lezat yang disediakan pemburu. Sudah banyak contoh yang beliau bandingkan seumpama Tuanku Imam Bonjol sendiri terkorban bukan sebagai syahid di medan peperangan tetapi adalah tertipu kelicikan pihak penjajah Belanda. Bahkan semua pemimpin yang menerima perundingan tersebut akhirnya ditangkap dan dibuang keluar dari negeri asalnya. Karena kerasnya pendirian Tuanku Tambusai tersebut, ada juga orang-orang yang tidak setuju dengan pendiriannya tersebut dan ramai pula orang-orang yang setuju dengan pendirian beliau. Tuanku Tambusai berpendirian terus berjuang sampai di usia yang cukup renta, 98 tahun. Kemudian beliau pun hijrah ke Seremban, Malaysia. Dan menutup usia pada 18 November 1882 di Negeri Sembilan,Malaysia. Bahkan sampai akhir hayatnya, beliau lebih memilih mati daripada berunding apalagi menyerah kepada pihak musuh. Atas jasa-jasanya pada negara, Tuanku Tambusai diberi gelar pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 071/TK/Tahun 1995, tanggal 7 Agustus 1995.

Kesimpulan
Dalam perang melawan penjajah, Tuanku Tambusai telah sangat berjasa. Karena beliau dapat menyatupadukan tiga etnik, yaitu Minangkabau/Rao, Melayu, dan Mandailing. Mereka bisa disatukan dalam satu semangat dan tekad, bahwa bumi pusaka ini bukanlah milik penjajah. Beliau juga telah sangat besar pengorbanannya untuk Negara ini. Pengorbanan tenaga, harta, dan pemikiran pun beliau lakukan demi Negara dan tanah air yang sangat dicintainya. Ketika beliau melakukan hijrah, bukan bererti lari tetapi bertujuan menyusun taktik dan strategi untuk mencapai kemenangan yang diredai Allah di dunia dan akhirat. Atas jasa-jasanya pada negara, Tuanku Tambusai diberi gelar pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 071/TK/Tahun 1995, tanggal 7 Agustus 1995.
Daftar Pustaka
Radjab, Muhammad.(1964).Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1838).Jakarta:Balai Pustaka
Said,Mahidin.(1996).Rokan-Tuanku Tambusai Berjuang. Pekanbaru:CV. Daya Karya
Tambusai, Umar Ahmad. (1981).  Perjuangan Tuanku Tambusai. Pekanbaru:Pustaka AS
Departemen Sosial RI. (1996). 101 Pahlawan Nasional. Jakarta:Departemen Sosial RI
(1996). Pahlawan nasional Tuanku Tambusai (Hamonangan Harahap/Muhammad Saleh) : sejarah ringkas dan perjuangannya. Sumatera Utara:Tim Pengumpulan, Penyusunan dan Penulisan Sejarah Perjuangan Tuanku Tambusai
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/1180-harimau-paderi-dari-rokan


EmoticonEmoticon