Wednesday, October 9, 2013

ABDULLAH / PIS

Surat kabar merupakan wahana komunikasi yang penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Media komunikasi ini telah dikenal di Nusantara sejak awal abad ke-19. Pada awalnya, penulisan surat kabar ditujukan untuk konsumsi orang-orang asing, yaitu bangsa Belanda dan Cina. Seiring munculnya gerakan politik etis sebagai praktik dari Trilogi Van Deventer, berita-berita asing dan berbagai wawasan banyak dibaca pula oleh kalangan rakyat. Bangsa Cina pun mulai menerbitkan surat kabar untuk kepentingan kalangannya sendiri. Surat-surat kabar yang berbahasa Melayu berkembang sejak awal abad ke-20. Berikut beberapa contoh surat kabar pribumi yang terbit pada masa itu.
1. Di Pulau Sumatra, berkembang surat kabar Sinar Soematra, Tjahaja Soematra, Pemberita Atjeh, dan Partja Barat.
2. Di Pulau Jawa, berkembang surat kabar Bromatani, Pewarta Soerabaia, Khabar Perniagaan, Pemberitaan Betawi, Pewarta Hindia, Bintang Pagi, Sinar Djawa, Slompret Melajoe, dan Poetra Hindia.
3. Di Pulau Kalimantan, berkembang surat kabar Pewarta Borneo.
4. Di Pulau Sulawesi, berkembang surat kabar Pewarta Manado.
Pada masa penjajahan Belanda, terbitnya surat kabar mempunyai visi sosial untuk memperluas pengetahuan para pembacanya, membentuk opini umum, dan menjadi pendidikan sosial politik melalui tulisan-tulisan di dalamnya. Surat kabar merupakan potensi cetak yang mempunyai kemampuan potensial dalam memuat berita, wawasan, polemik, dan tukar menukar pikiran. Bahkan, berbagai bentuk ide dan pemikiran secara struktural dapat dikomunikasikan kepada masyarakat luar melalui surat kabar. Potensi surat kabar ini menyebabkan Belanda banyak menekan ruang gerak dan mempersempit peredaran surat kabar Nusantara. Surat kabar seperti Pantjaran Warta dan Bentara Hindia (terbit di Jakarta), Sinar Matahari (terbit di Makassar), dan Medan Prijaji (terbit di Bandung) merupakan surat-surat kabar pembawa suara pemerintah kolonial Belanda.
Ketika Indonesia memasuki masa pergerakan nasional, surat kabar mempunyai peranan yang sangat penting sebagai penyebar semangat nasionalisme. Organisasi-organisasi pergerakan nasional pada masa itu pun memiliki surat kabarnya sendiri, misalnya,
1. Budi Utomo, surat kabarnya berjudul Darmo Kondo;
2. Sarekat Islam, surat kabarnya berjudul Oetoesan Hindia;
3. Indische Partij, surat kabarnya berjudul Het Tijdsrift dan De Express;
4. Perhimpunan Indonesia, menerbitkan majalah Indonesia Merdeka;
5. Partindo, surat kabarnya berjudul Pikiran Rakjat;
6. PNI Baru, surat kabarnya berjudul Daoelah Rakjat;
7. PNI, surat kabar berjudul Soeloeh Indonesia Moeda.

DAFTAR PUSTAKA
Wardaya.2009. Cakrawala Sejarah SMA/MA Kelas XI (Bahasa)


EmoticonEmoticon