Thursday, August 7, 2014

Usaha umat Islam memperbaiki diri lewat dakwah memang tidak pernah berhenti. Tetapi gerakan dakwah ng dilakukan tidak selalu efektif. Kemunkaran yang ingin dibasmi bukannya berkurang, malah terus membengkak. Hal ini mungkin karena pendekatan dakwah belum begitu tepat.

Gerakan dakwah saat ini cenderung terbagi: pertama, konfrontasi,dan kedua, solusi. Dakwah konfrontasi mengambil posisi berseberangandengan masyarakat. Pelaku maksiat, fasiq dll yang notabene umat Islam juga dihantam dengan bahasa keras dan vulgar. Khutbah, ceramah, dan pengajian disampaikan penuh semangat dan nada tinggi. Dainya puas karena sudah berani berkata benar walaupun pahit. Sebagian pendengar mungkin juga senang, bahkan memberi aplaus. Tetapi tidak mustahil banyak yang makin kusut, tegang dan sumpek. Mereka bingung, ingin memperbaiki diri tetapi tidak menemukan solusi.
Allah swt memperingatkan, dakwah dengan kata-kata keras dan kasar justru akan membuat orang menjauh. Meminjam istilah Ibu Dra. Hj. Masyithah Umar, MHum, akademisi IAIN Antasari Banjarmasin, pendekatan pertama dapat disebut dakwah tabrak lari. Para dai hanya menghantam dan mengecam, bahkan mencaci maki, tanpa tindak lanjut usaha yang bertanggung jawab untuk memperbaiki secara nyata.
Akibatnya terjadi gap yang makin menganga, kemaksiatan tidak kunjung berkurang. Justru dai, dakwah dan masjid dijauhi. Orang yang merasa dirinya ebrgelimang dosa takut ke masjid, enggan ke pengajian, takut kalau disinggung dan disindir. Akhirnya dakwah agama dianggap momok dan beban, bukan embun yang menyejukkan dan obat penawar yang menyembuhkan.
Dalam dakwah solusi, pelaku maksiat dan fasiq didekati dengan hati nurani sambil dicarikan jalan keluarnya. Sering caranya diam-diam tanpa ublikasi, hasilnya banyak orang insyaf. Orang yang cuek pada agama jadi taat, tadinya preman, maksiat dan abangan mau bertaubat dan menjadi muslim betulan, dst. Inilah salah satu esensi dakwah. Para ahli menyaakan, di antara hakikat dakwah adalah mengubah suatu keadaan yang sebelumnya tidak baik menjadi baik.
Tentu berat jika ini dikerjakan dai saja. Usaha ke arah ini membutuhkan keterpaduan gerakan. Pemilik modal, sarana dan berbagai kompetensi perlu terlibat.
Ragam Pendekatan Sayang dari dua model ini, dakwah konfrontasi justru lebih menonjol, sementara dakwah solusi terabaikan. Masih banyak juru dakwah yang merass bangga ketika materi dskwahnya diberi tepuk tangan, tanpa meneliti dampak dan tindak lanjut dari isi dakwahnya.
Kenyataan ini disebabkan: Pertama, para dai dan aktivis dakwah terlalu banyak menguasai materi dakwah, sedangkan metodenya kurang. Padahal dalam dakwah berlaku kaidah: al-thariqatu ahammu min al-maddah (metode lebih penting daripada isi).
Kedua, dai dan aktivis dakwah terlalu bersemangat. Mungkin karena masih muda atau baru mengalami konversi agama, baru mempelajari sejumlah bacaan agama, semangatnya tidak tertahankan. Terlalu menggebu kadang terlanggar rambu dan lupa memenej qalbu sendiri dan orang lain.
Ketiga, dai dan aktivis dakwah lupa bahwa memperbaiki orang memerlukan pendekatan interdisipliner, lintas sektoral. Melarang pelacuran dan miras, tidak sekadar mencap zina dan mabok haram, tetapi diupayakan orang tidak melacur dan mabok lagi. Keberhasilan Gubernut DKI Sutiyoso ersama para ulama dan habaib Betawi menutup Kompleks WTS Kramaat Tunggak, lalu menyulapnya menjadi Jakarta Islamic Center, patut dijadikan model dakwah solusi ini (Penulis, BPost 5 Januari 2013).
Keempat, walau membawa bendera dakwah, metode dakwah Nabi sering terlupakan, padahal Rasulullah adalah teladan kita semua termasuk dalam berdakwah. Nabi lebih banyak menggembirakan dan memberi solusi, sesuai pesan beliau: “mudahkan dan jangan persulit, gembirakan dan jangan ditakut-takuti” (Shahih al-Bukhari I, 1401 H: 25). Nabi bersikap keras kepada orang kafir yang memusuhi, tetapi nonmuslim yang bersahabat, apalagi sesama muslim termasuk yang masih maksiat, beliau sayang dan santun.
Ketika ada Arab Badui kencing di Masjid, sebab Masjid Nabawi terlalu sederhana dan jauh dari mewah seperti sekarang, beliau tidak marah. Ketika ada pemuda minta izin berzina, beliau juga tidak marah. Beliau hanya minta pemuda itu mengembalikan urusannya kepada dirinya sendiri, bagaimana perasaannya jika istrinya, ibunya, dan anak perempuannya dizinai orang, apakah ia senang. Akhirnya sang pemuda sadar dan tak lagi mau berzina. Nabi saw juga suka memuji para sahabat dengan melihat sisi baiknya, bukan kekurangannya. Dari akhlak terpuji inilah Islam semakin diterima kawan dan lawan.
Para ulama Walisongo dulu sukses berdakwah di tanah Jawa juga karena mereka mampu berdakwah sambil memberi solusi terhadap problema masyarakat. Ketika ada warga yang sakit sang wali mampu mengobati. Ketika masyarakat ditimpa kekeringan dan paceklik, sang wali manjur doanya sehingga hujan turun dan tanaman subur. Saat masyarakat ditimpa kezaliman dan teraniaya, para wali mampu tampil paling depan melakukan pembelaaan.
Mereka menguasai ilmu agama dan digjaya. Rata-rata punya keahlian bela diri yang sesekali digunakan jika terdesak Problema Sosial Sebanyak 39,5 juta penduduk Indonesia (2006) terkategori miskin.
Kalsel dengan 3,363,691 jiwa penduduk, tercatat 250.743 rumah tangga miskin dan penerima BLT lebih 1 juta jiwa. Seorang pengamat dari luar daerah heran melihat fenomena di Kalsel, kemiskinan tinggi tetapi kuota hajinya selalu terlampaui (haji reguler, plus dan umrah di atas rata-rata nasional). Pertumbuhan mall subur, mobil mewah lalu lalang, penjualan mobil dan motor terus meningkat. Pengamat itu menduga kepedulian dan sharing kaya - miskin di daerah ini rendah. Orang kaya lebih memilih enak dan saleh individual daripada beramal sosial. Dalam teori kejahatan Harvey Brenner (1986) keterpurukan ekonomi dan keputusasaan adalah faktor dominan penyebab orang berbuat jahat, kriminal, melanggar hukum agama dan negara (istilah dakwahnya kemaksiatan/kemunkaran). Mengatasinya harus dengan melihat akar  enyebabnya. Nabi saw mengatakan, hampir saja kemiskinan itu mendatangkan kekafiran (al-Jamius Shaghir 2: 89). Kafir di sini tidak selalu dalam arti pindah agama,tetapi juga suka bermaksiat mengabaikan dan melanggar agama karena putus asa tanpa ada yang mau menolong.
Sangat bijak jika orang miskin dan preman yang cuek agama didekati dakwah bilhaal dengan bantuan ekonomi, modal dan lapangan kerja,
pengobatan, biaya pendidikan, dll. Sangat elok kalau lelaki bertanggung jawab dan mengerti agama bersedia mengawini PSK yang mau sadar, sebab fenomena prostitusi sering karena persoalan ekonomi, frustrasi, kecewa dan broken home. Sangat bijak jika lelaki kaya bersedia mengawini janda yang banyak anak. Sangat cantik jika orang-orang kaya bersedia menjadi orang tua asuh warganya yang putus sekolah dst. Dakwah begini sunyi dari tepuk tangan dna publikasi, tetapi sesungguhnya sangat efektif menyelamatkan orang dari keterpurukan dan kubangan lumpur. Besar sekali pahalanya jika para dermawan mencarikan solusi, misalnya menyediakan pekerjaan dengan upah layak kepada kalangan rendahan yang tidak bekerja, yang sangat mungkin terjerumus premanisme. Orang yang pekerjaannya menyerempet maksiat, biasanya karena kesulitan bekerja halal. Sudah seharusnya pemerintah dan pihak terkait meningkatkan sektor
riil agar lapangan kerja terbuka luas. Penggusuran PKL tanpa solusi rentan

menimbulkan problema ekonomi yang parah dan keputusasaan dengan segala akibatnya.
Tren maksiat dan hedonis yang terjadi di kalangan menengah atas mungkin karena kekurangan pedoman hidup dan minim agama. Solusinya dakwah yang menyadarkan, mencerdaskan dan mendekatkan kepada Allah, seperti Jamaah Tabligh, Training ESQ, Pelatihan Tahajud, Shalat khusyu’, Majelis Zikir, Tarekat dan Istigotsah, diskusi, seminar, dlsb.

Perbedaan cara pendekatan dakwah ini hendaknya diterima sebagai rahmat, tidak perlu saling kecam antarasesama dai dan aktivis dakwah. Para ulama dan juru dakwah tidak boleh eksklusif dan merasa lebih hebat dan pintar atas yang lain. Kita semua harus saling isi dan melengkapi. Metode

boleh berbeda, yang penting semangat dan tujuannya sama, yaitu izzul Islam wal-muslimin. Allahu A’lam.

Pengamat sosial keagamaan, Sekretaris Umum

Yayasan & Badan Pengelola Masjid At-Taqwa Banjarmasin


EmoticonEmoticon